Polres Parepare Tangkap Penyelundup Detonator Jaringan Internasional

oleh -

Parepare – Kepolisian Resort Parepare berhasil menggagalkan penyelundupan Detonator alat pemicu bahan peledak yang kerap digunakan para nelayan menangkap ikan dengan cara ilegal, di Jalan Mattiro Tasi, Kecamatan Bacukiki Kota Parepare. Kamis (18/10/2018)

Kapolres Parepare AKBP Pria Budi mengatakan, penyundupan bahan peledak itu terungkap setelah Sat Intelkam bekerjasama dengan Tim Crime Hunter Resmob Polres Parepare melakukan penyemaran dengan berpura-pura sebagai pembeli.

Hingga akhirnya pelaku yang diketahui bernama Muh Isnaini Alias Eni (43) bersama barang bukti 500 Buah Detonator siap pakai yang dikemas di dalam Dus, berhasil diamankan.

BACA JUGA :   Bawa 5 Gram Sabu, Pria Asal Pampang ini Diringkus

“Pelaku ini sudah menyelundupkan Detonator sebanyak 5 kali yang dibeli dari rekanannya di Malaysia. Jadi ini adalah jaringan internasional. Selain itu ada satu lagi pelaku identitasnya sudah kita kantongi yang kini masih dalam pengejaran DPO” kata Pria Budi.

Dari keterangan pelaku, kata dia, detonator yang di pesan ini diperjual belikan kepada nelayan. Untuk memesan detonator tersebut pelaku membeli dengan harga per satu dus kecil seharga 700 ringgit jika dirupiahkan nilainya RP.2.100.000 (dua juta seratus ribu rupiah).

BACA JUGA :   Usai Adiknya Petik Lombok, Pria ini 'Petik' Kehormatan Adiknya di Tengah Kebun

Setelah membeli barang tersebut pelaku membawanya ke Indonesia untuk di pasarkan, kepada nelayan dengan harga per satu dus kecilnya Rp.5.000.000 (lima juta rupiah).

“Ini sangat berbahaya dan mengancam kelangsung kehidupan biota laut kita karena dengan bom ikan, yang dimatikan itu sampai ke benih-benih ikan dan ekosistemnya. Sementara ekosistemnya baru bisa normal kembali setelah puluhan tahun bahkan ratusan tahun,” ujar Pria Budi

BACA JUGA :   Apel Ke Rumah Janda, Nasrudin Tewas Ditikam Mantan Suami

Atas perbuatannya, pelaku akan dijerat pasal 1 ayat (1), UU Darurat No 12 tahun 1951, Lembar Negara (LN) No 78 dan atau pasal 60 ayat (1) huruf f UU No 12 tahun 1992 tentang sistem budi daya tanaman.

“Pelaku terancam Hukuman 20 tahun seumur hidup dan serta hukuman mati” Kata Pria diakhir rilisnya.