Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bantaeng mengundang 2 Jurnalis dari 2 media online (Bidik Nasional dan Berita Sulsel Biro Bantaeng) sebagai narasumber di acara podcast pada Rabu pagi, (10-12-2025).

Podcast bertema ‘Demokrasi di Bantaeng di Mata Jurnalis’ itu, di moderatori host cantik, Wahidah, S.H (Staf pelaksana di Sub Bagian Hukum dan Teknis KPU Bantaeng).

Ketika host bertanya tentang bagaimana sudut pandang versi media online terhadap Demokrasi di Bantaeng, 2 Jurnalis sepakat menjawab bahwa demokrasi di Bantaeng untuk Pilkada dan Pileg itu, masih dalam batas kewajaran.

“Meskipun ada riak dari warganet ketika berita hoaks muncul di media sosial seperti fesbuk terkait dengan figur caleg atau figur salah satu kandidat di pilkada. Itu masih batas kewajaran,” kata Ishak, Jurnalis Beritasulsel.com.

Jurnalis Bidik Nasional, Edy menambahkan dengan berkomentar: “Berita hoaks yang di posting akun fesbuk tanpa identitas jelas, itu masih bisa diredam oleh komentar akun fesbuk yang tanpa identitas jelas juga. Akun fesbuk itu membantah postingan akun fesbuk lain yang memposting tentang keburukan figur caleg atau figur kandidat di pilkada”.

Host cantik podcast KPU Bantaeng, Wahidah, juga bertanya tentang dilema yang dialami oleh Jurnalis saat meliput di tahapan Pilkada.

Jurnalis Beritasulsel menjawab mengalami dilema.
“Kadang kami ini dianggap mata-mata oleh tim paslon, padahal kami ini bekerja profesional sesuai dengan tugas kami sebagai pewarta untuk menyajikan berita terkait kegiatan kandidat,” kata Ishak.

Jurnalis Bidik Nasional menjawab dengan mengatakan dilema itu pasti ada.
“Gampang-gampang susah meliput di tahapan pesta demokrasi. Dalam artian gampang menemui kandidat untuk bisa bertanya langsung dan susah dalam artian kami dianggap seperti yang disebutkan Pak Ishak. Padahal kami bekerja sesuai dengan Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999,” kata Edy.

Pertanyaan host selanjutnya tentang faktor utama yang membuat wajib pilih mau datang ke TPS, dan apa yang biasanya justru membuat mereka apatis?
Kedua Jurnalis sepakat bahwa faktor utama wajib pilih mau datang dan gunakan hak suaranya itu dikarenakan wajib pilih itu fanatik dengan figur kandidat.

“Sedangkan yang membuat warga atau wajib pilih menjadi apatis atau cuek dengan proses pemilihan itu, dikarenakan biasanya kurang tertarik dengan proses pemilu itu sendiri,” kata Jurnalis Berita Sulsel.

Ketika host cantik kembali bertanya tentang peran media dalam pemberitaan terhadap pilihan dan partisipasi wajib pilih, dijawab oleh Edy dengan mengatakan “Pemberitaan terkait pilihan dan partisipasi wajib pilih itu sangat berpengaruh”.

Menutup sesi bertanya dan menjawab di podcast KPU Bantaeng, host Wahidah bertanya: “Satu kalimat untuk demokrasi di Bantaeng hingga hari ini?”.
Kedua Jurnalis beda pengalaman itu bersepakat menjawab: ‘Edukasi dan Sosialisasi sangat perlu dilakukan secara bertahap kepada pemilih pemula untuk memberikan pemahaman tentang apa itu politik’.

Komisioner KPU Bantaeng Divisi Sosialisasi Pendidikan Pemilih dan Partisipasi Masyarakat, Aspar Ramli, mengucapkan terima kasih atas kehadiran 2 Jurnalis di Podcast KPU Bantaeng sebagai narasumber.

“Apa yang disampaikan teman-teman Jurnalis di Podcast ini, sangat luar biasa dan akan menjadi input bagi kami di KPU Bantaeng,” ungkap Aspar Ramli.