Oleh : Azandhi Ekadiatma Rivay
Beritasulsel.com – Bencana alam di Sumatera telah kembali memicu pertanyaan, seberapa baik kita siap untuk hidup di tanah yang indah dan mematikan ini? Meskipun curah hujan yang ekstrem mungkin menjadi pemicu, akar masalah yang ada seringkali jauh lebih kompleks daripada pola cuaca yang tidak menentu.
Berbeda dari yang lain, Sumatera adalah salah satu wilayah yang mengalami laju pertumbuhan yang cepat. Ada manfaat ekonomi yang positif, tetapi kita juga harus jujur bahwa ada konsekuensi dari pembangunan.
Ruang hidup masyarakat berubah dan dengan ini, pola risiko juga berubah. Kita mungkin melakukan ini secara bawah sadar, tetapi kita cenderung mengganggu ekologi wilayah dengan perkembangan ekonomi yang cepat, dan perlindungan terhadap masyarakat tidak tampak sejalan dengan perkembangan ekonomi yang cepat.
Pada titik ini, peran tata kelola bencana sangat penting. Tanggapan cepat dari tim SAR, relawan, dan organisasi lainnya sangat patut dipuji, tetapi upaya yang paling penting adalah yang perlu dilakukan sebelum bencana terjadi. Seringkali tidak ada atau hanya sedikit visibilitas tentang perencanaan yang perlu dilakukan, tetapi potensi dampak dari bencana sangat tergantung pada hal itu.
Beberapa orang beranggapan bahwa mitigasi sebaiknya dianggap sebagai investasi ke depan, bukan hanya sebagai biaya overhead. Dengan melihat peningkatan ekonomi, pengurangan risiko dalam pembangunan juga seharusnya ada dalam paket.
Segi pengurangan risiko pembangunan tidak bertujuan untuk membebani biaya kepada pemitigasi, tetapi untuk menyeimbangkan manfaat dan keberlanjutan secara lebih adil.
Pelajaran akhir dari bencana perlindungan ruang hidup bukan hanya tanggung jawab pemerintah, sektor swasta, atau masyarakat, yaitu adalah tanggung jawab bersama. Masing-masing dari kita memiliki bagian kecil dari tanggung jawab keseluruhan. Yang aman dan yang tidak aman. Bencana mengingatkan kita untuk mengatakan bahwa kita memiliki ruang untuk melakukan pengembangan.
Ada Harapan tapi bukan berarti bahwa bencana tidak dapat dihindari. Ada ruang. Dan itulah harapan. Masing-masing dari tragedi ini, beban yang tidak terkendali ini, mengajarkan kita. Membantu kita melihat bagaimana melakukan rekayasa ruang dengan bijaksana. (*)
