Karena kalau sampai kita orang Indonesia tahu cara mengolah porang menjadi makanan, jadi beras Shiratake, jadi konyaku, jadi mie Porang, maka mereka khawatir nanti porang kita dikonsumsi sendiri dan mereka tidak dapat lagi suplay porang untuk prajurit mereka di luar negri.
Bahkan saat armada pengangkut porang mau lewat, yaitu porang yang dikumpulkan dari anak sekolah dan perangkat desa yang diwajibkan setor porang itu, mereka membunyikan alarm, agar rakyat pribumi berlindung atau ngumpet di rumah atau di goa goa..
Tujuannya, agar rakyat tidak tahu bahwa meraka sedang konvoi ratusan truk pengangkut porang ke Pelabuhan.
Sehingga sampai saat ini nenek moyang kita tidak mewarisi kita cara pengolahan porang yang memang mereka tidak tahu.
Allah maha adil..
Jepang dan China sebagai pengkonsumsi porang belakangan ini kesulitan stok karena faktor alam dan pertambahan penduduk yang makin banyak butuh porang sangat banyak.
Tahun 2014 kemarin datanglah mereka ke Indonesia untuk cari porang. Karena memang sumber/pusat porang dunia ada di Indonesia
Pada dasarnya porang sudah dikirim ke sana sejak tahun 1962 oleh PT Ambico Pasuruhan dan PT Sanindo Bandung, tapi kebutuhan di sana makin banyak.
Maka wakil pemerintah, mereka datang langsung untuk kerjasama atau MoU pembelian dan penanaman porang.
Awalnya dengan Perhutani Madiun di Saradan sana. Mulai saat itu porang berkembang makin pesat dan luasan lahan porang khususnya di Jatim (Madiun, Nganjuk, Ngawi, Bojonegoro) makin luas.
Ditambah lagi tahun ini,


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.