ENREKANG – Gelaran “Festival Durian 2026” yang dipusatkan di Kebun Raya Massenrempulu, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada hari Selasa (30/6/2026), berakhir ricuh.

Acara yang awalnya diprediksi menjadi pesta kuliner tahunan ini justru menyisakan kekecewaan mendalam bagi ribuan pengunjung yang merasa tertipu oleh pihak penyelenggara.

Sejak pagi hari, antusiasme masyarakat dari berbagai daerah tampak membeludak. Festival ini mengusung jargon promosi yang menggiurkan yaitu “Makan Durian Sepuasnya, Cuma Bayar Sekali” dengan tarif tiket masuk Rp50 ribu per orang.

Sayangnya, lonjakan pengunjung tersebut tidak diimbangi dengan manajemen logistik yang matang dari pihak panitia pelaksana.

Banyak warga yang rela menempuh perjalanan jauh dari luar daerah, seperti Kota Parepare dan sekitarnya, terpaksa menelan pil pahit.

Setelah mengantre panjang dan membayar tiket resmi di loket, mereka mendapati stok buah durian di dalam area festival sudah habis tak bersisa.

Kekacauan semakin memuncak saat massa yang meradang mencoba meminta pertanggungjawaban serta pengembalian uang tiket (refund).

Bukannya mendapatkan solusi, meja registrasi justru ditemukan kosong melompong. Para petugas dan panitia penyelenggara diduga sengaja menghilang dan “kabur” dari lokasi untuk menghindari amukan warga yang mulai memanas.

“Saya jauh-jauh dari Parepare bersama keluarga sengaja datang ke sini karena promosinya menarik, makan sepuasnya cuma bayar 50 ribu rupiah. Tapi pas kami masuk ke dalam, jangankan makan sepuasnya, buah duriannya saja sama sekali tidak ada,” cetus salah satu pengunjung dengan nada emosi di lokasi kejadian.

Lebih lanjut, pengunjung tersebut mengatakan bahwa dirinya bersama keluarganya terpaksa putar balik setelah membayar mahal.

“Ketika kami mau minta uang kembali, panitianya sudah tidak ada di meja, menghilang entah ke mana. Ini betul-betul merusak nama baik Kabupaten Enrekang,” sesalnya.

Gelombang protes tak hanya terjadi di lokasi acara, melainkan langsung membanjiri jagat media sosial.

Berbagai platform digital dipenuhi oleh keluhan, kritik tajam, hingga hujatan netizen yang menilai acara ini merupakan bentuk penipuan yang terstruktur.

“Penipuan berkedok festival sudah sering terjadi,” tulis akun Scebo Conscio dalam kolom komentar yang viral.

Merespons kekacauan ini, sejumlah tokoh masyarakat dan warganet mendesak agar kasus ini segera dilaporkan secara resmi ke aparat kepolisian di Polres Enrekang.

Langkah hukum dinilai penting agar pihak panitia pelaksana diperiksa secara intensif dan bertanggung jawab penuh atas kerugian materiil maupun immateriil yang dialami ribuan korban.

“Laporkan (ke) polisi itu panitia sekarang supaya ditangkapki, seperti modus penipuan,” tulis netizen lainnya bernama Solihin.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi maupun klarifikasi dari pihak pengelola Kebun Raya Massenrempulu ataupun panitia pelaksana “Festival Durian 2026” terkait tuntutan ganti rugi tersebut.

Kejadian ini dikhawatirkan bakal memberikan citra buruk yang berkepanjangan bagi sektor pariwisata dan kuliner di Kabupaten Enrekang. (Rzl/red)