STIH Lamaddukelleng Polisikan Penyebar “HOAX” !

oleh -
ist.
STIH Lamaddukelleng lahirkan praktisi hukum!

Wajo, Sulsel – Pihak Sekolah Tinggi Ilmu Hukum(STIH) Lamaddukelleng, bereaksi keras terkait adanya hoax yang disebarkan oleh salah satu pemilik akun media sosial yang secara terang dan nyata menyerang martabat dan kehormatan segenap civitas akademika STIH Lamaddukelleng pun alumninya.

Menurut Ketua STIH Lamaddukelleng, Ismail Ali SH MH, pemilik akun  media sosial penyebar hoax harus diberikan efek jera dengan melaporkan pemilik akun yang bersangkutan ke polisi.

“Langkah ini merupakan penegasan kepada semua pengguna media sosial untuk lebih hati-hati dalam menyampaikan isi pikirannya di media sosial. Sudah ada payung hukum yang mengaturnya yakni  UU RI Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik,” ujar Ismail Ali, akademisi dengan latar belakang advokat ini.

Pasal 27 ayat 3 UU ITE menyebut melarang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Sejumlah Alumni STIH Lamaddukelleng, mengutuk keras tindakan penyebar hoax yang kini mulai bertumbuh di Bumi Lamaddukelleng, bumi yang mengedepankan prinsip budaya leluhur, Sipakatau, Sipakalebbi,Sipakainge (3S) (saling memanusiakan, menghormati dan mengingatkan.

Patauntung, Alumni STIH Lamaddukelleng Angkatan 2010, mengatakan, fenomena penyebaran hoax adalah budaya latah yang dibarengi kurangnya pemahaman mengenai dampak positif dan negatif penggunaan media sosial.

“Berekspresi dan menyampaikan pendapat itu tidak dilarang, yang dilarang adalah menyebarkan fitnah atau isu yang menyerang martabat dan kehormatan seseorang atau lembaga. Kami mendukung sepenuhnya langkah pihak civitas akademika STIH Lamaddukelleng untuk menempuh jalur hukum.

“Efek jera adalah bagian dari reformasi mental yang perlu ditumbuhkan agar pengguna media sosial lebih berhati-hati,” pungkas mantan Komisioner KPU Wajo, yang kini aktif di bidang advokasi dan bantuan hukum ini.(PRD)