Bulukumba – Ketua Forum Pemerhati Masyarakat Sipil (FPMS), HM Amiruddin Makka, SE., MM., MH., meminta agar Akbar Amnur dicopot dari jabatannya sebagai Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas IIA Bulukumba.

Desakan ini muncul menyusul pengakuan seorang narapidana bernama Irfan Vega yang menyatakan telah mengonsumsi sabu di dalam Lapas. Selain itu, seorang oknum petugas Lapas berinisial AR juga ditangkap karena diduga terlibat dalam peredaran narkoba.

“Saya berharap Kalapas Bulukumba segera dicopot karena gagal menjalankan fungsi pembinaan. Ironisnya, justru para sipir di dalam Lapas yang seharusnya dibina. Warga yang dijatuhi hukuman dimasukkan ke Lapas untuk dibina, namun dari kejadian ini seolah justru sipirnya yang butuh pembinaan,” tegas Amiruddin, Selasa (14/5/2025).

Dikatakan bahwa kejadian ini menandakan adanya pelanggaran serius. “Ada napi yang mengaku memakai sabu, peredaran HP yang bebas dalam Lapas, hingga sipir yang tertangkap edarkan sabu. Ini menunjukkan lemahnya pengawasan. Sipir harus dibina dulu baru bisa membina napi,” imbuhnya.

Lebih lanjut Amiruddin menegaskan bahwa selain kasus narkoba, napi dalam Lapas itu juga bebas menggunakan ponsel.

Hal ini terungkap dalam sidak yang dilakukan beberapa waktu lalu, di mana petugas menemukan sejumlah HP milik napi.

“Maka tidak ada alasan lagi untuk mempertahankan Kalapas. Napi pesta sabu, sipir edar sabu, dan napi bebas pegang HP. Pelanggarannya sudah komplet. Jalan satu satunya adalah copot Kalapas dan evaluasi total Lapas Bulukumba,” tegasnya.

Terakhir, Amiruddin mengaku akan segera menyurati Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) untuk meminta agar  Kalapas Bulukumba dicopot. “Insya Allah saya akan menyurat ke Kemenkumham,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Satnarkoba Polres Bulukumba telah menangkap seorang oknum sipir Lapas Bulukumba inisial AR pada hari Selasa (13/5/2025) di Jalan Gajah Mada, Bulukumba.

Dari tangan AR, polisi menyita barang bukti sebanyak delapan sachet berukuran kecil dan sedang yang diduga berisi narkotika jenis sabu siap edar.

Bersambung ke halaman selanjutnya >>>

Sebelumnya, sorotan yang sama datang dari beberapa warga Bulukumba, mereka meminta agar Kalapas Bulukumba, Akbar Amnur dicopot buntut dari pengakuan Irfan Vega yang mengaku mengonsumsi sabu di dalam Lapas dan Napi bebas menggunakan HP dalam Lapas.

Namun, terkait hal itu Akbar Amnur telah memberikan pernyataan. Dalam keterangannya, dia mengatakan bahwa dirinya tidak pernah mendukung atau membiarkan praktik-praktik terlarang di dalam lapas.

‘Saya, baik secara pribadi maupun secara kelembagaan, tidak pernah mendukung atau membantu peredaran narkoba maupun penggunaan HP ilegal dalam lapas. Tidak pernah ada arahan seperti itu,” ujar Akbar, Kepada Beritasulsel.com, jaringan Beritasatu.com, Jumat malam (9/5/2025).

Dijelaskan, sejak menjabat sebagai Kalapas Bulukumba tiga bulan lalu, pihaknya telah menindak tegas 10 hingga 12 napi yang terbukti melanggar aturan, khususnya terkait penggunaan handphone.

“Kami tidak tinggal diam, kami bekerja. Kalau kami tidak bekerja, mungkin angka napi yang ditindak itu tidak akan ada. Tapi kalau masih ada pelanggaran, ya kita semua menyadari bahwa (tidak ada) lembaga yang sempurna banget begitu ya pak?,” ungkapnya.

Lebih lanjut Akbar menegaskan bahwa bila masih ditemukan pelanggaran di dalam lapas dan itu dianggap sebagai bentuk kelalaian petugas, hal tersebut menurutnya tidak bisa dijadikan indikator utama.

Pasalnya, lapas tersebut dihuni oleh sekitar 500 warga binaan, sementara jumlah petugas hanya 80 orang dengan sarana dan prasarana yang sangat terbatas.

“500 orang warga binaan, 80 pegawai yang sangat minim, serta sarana dan prasarana kami juga yang sangat terbatas, tentunya kami menganggap bahwa mungkin masih ada celah atau kelalaian kelalaian kami. Tapi itu kemudian belum juga bisa dijadiakan indikator. Kenapa? Karena kami tetap terus (bekerja) berbuat,” jelasnya.

Akbar juga menyebutkan bahwa pihaknya aktif bekerja sama dengan aparat penegak hukum (APH) seperti Polres, Kodim, serta pemerintah setempat untuk memberikan pembinaan kepada para warga binaan.

“Kami rutin bekerja sama dengan APH untuk memberikan pengarahan kepada warga binaan. Tujuannya? Agar saat kembali ke tengah tengah masyarakat, mereka dalam kondisi lebih baik, lebih sehat, dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya,” tutup Akbar. (***).