LLPKN Sebut Ada Penyalahgunaan Anggaran di SMA 11 Bulukumba, Diduga Kepsek Bermain?

oleh -
Bangunan gedung perpustakaan SMAN 11 Bulukumba.

BULUKUMBA, Beritasulsel.com – Lembaga Lacak Penyalahgunaan Kewenangan Negara (LLPKN) cabang Bulukumba menyebut ada dugaan penyalahgunaan anggaran pada pembangunan gedung perpustakaan di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 11 kabupaten Bulukumba, yang terletak di Desa Bonto Tanggah, Kecamatan Bonto Tiro.

Hal tersebut dikatakan Ketua Bidang Divisi Hukum dan HAM LLPKN Bulukumba, Firman Gani kepada Beritasulsel.com, Jumat 4 Januari 2018.

Dari hasil investigasi yang dilakukannya, Firman Gani merinci telah menemukan beberapa kejanggalan dalam pembangunan gedung perpustakaan yang menelan anggaran sekitar Rp. 260 juta lebih itu.

“Pembangunan gedung perpustakaan tidak sesuai dengan anggaran yang turun, dari yang kami temukan pembangunan yang ada tidak sebanding dengan anggaran yang digelontorkan sekitar Rp. 260 juta lebih dengan melihat kondisi bangunan,” ujar Firman Gani.

Lebih lanjut, dirinya menjelaskan gedung perpustakaan dari DAK 2018 tersebut tampak dibangun asal asalan. “Bukan main bangunan baru tapi bagian atap sudah rusak, karena pakai bahan yang tidak sesuai standar,” tambahnya.

Tidak sesuai, bayangkan penyangga yang seharusnya 10 itu hanya ada 5 batang. Wajar kita menduga kepsek mau untung banyak, karena dia yang mengerjakannya,” jelas Firman Gani.

Selain itu dirinya menyayangkan lemahnya pengawasan ditingkat lembaga pengawas internal pemerintah Provinsi. “Kami mendesak pihak aparat hukum untuk turun menelusuri hal ini,” pungkas Firman Gani.

Terpisah, Kepala Sekolah SMAN 11 Bulukumba, Muhammad Saleh yang dikonfirmasi membantah tudingan yang dilontarkan LLPKN. Menurut dia proyek pembangunan gedung perpustakaan tersebut telah selesai.

“Penyalahgunaan apa, tidak ada itu, yang mana dia maksud penyalahgunaan?. Sudah selesai bangunannya, Direktorat Pembinaan SMA bahkan sudah terima laporan saya mulai progres 25 persen, 50 persen,  75 persen sampai 100 persen,” katanya.

Meski demikian dirinya tak menepis bahwa dalam proses pembangunan memang sempat terjadi kesalahan.

“Awalnya memang karena tukang nya kurang profesional tapi saya sudah benahi dan perbaiki jadi sudah selesai. Dinas Pendidikan Provinsi juga sudah datang berkunjung foto-foto semua, dan saya sudah mengisi instrumen,” tandas Muhammad Saleh.