JAYAWIJAYA – Jumlah korban tewas akibat bentrokan antarsuku di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, terus bertambah.
Hingga Minggu (17/5/2026), tercatat sebanyak 13 orang dilaporkan tewas dalam konflik yang melibatkan dua kelompok warga tersebut.
Selain korban jiwa, sedikitnya 19 orang lainnya mengalami luka-luka akibat aksi saling serang yang berlangsung sejak Kamis (14/5/2026).
Dari jumlah tersebut, tiga orang mengalami luka berat dan masih menjalani perawatan intensif di RSUD Wamena.
Kasi Humas Polres Jayawijaya, Ipda Efendi Al Husaini, membenarkan adanya penambahan jumlah korban meninggal dunia dalam perang suku tersebut.
“Data terbaru korban meninggal dunia berjumlah 13 orang,” ujar Efendi kepada wartawan, Minggu (17/5/2026).
Korban luka, kata dia, terdiri dari tiga orang luka berat dan 16 lainnya mengalami luka ringan. Seluruh korban saat ini masih mendapatkan penanganan medis.
Bentrokan diketahui melibatkan kelompok dari Suku Pirime (Lanny) dan Suku Kurima (Woma). Kedua kubu terlibat aksi saling serang menggunakan senjata tradisional seperti panah dan senjata tajam.
Konflik pertama kali pecah di Distrik Woma pada Kamis lalu sebelum meluas ke sejumlah wilayah lain di Jayawijaya hingga Jumat (15/5/2026). Aparat keamanan masih disiagakan untuk mencegah bentrokan susulan.
Di tengah situasi tersebut, ratusan warga memilih mengungsi demi menghindari eskalasi konflik. Berdasarkan data kepolisian, total pengungsi mencapai 789 orang, terdiri dari pria, wanita, anak-anak, hingga lansia.
“Jumlah pengungsi sebanyak 789 orang, terdiri dari 298 anak-anak dan 122 lansia,” kata Efendi.
Polisi juga masih melakukan pendataan terkait rumah maupun bangunan yang dilaporkan rusak dan terbakar selama bentrokan berlangsung.
Sementara itu, Kapolda Papua, Irjen Patrige R Renwarin, mengungkapkan bahwa perang suku dipicu persoalan lama terkait denda adat atas kasus kecelakaan lalu lintas yang menewaskan seorang anggota DPRD Lanny Jaya pada 2024 lalu.
Menurut Kapolda, proses mediasi terkait pembayaran denda adat mengalami kebuntuan hingga akhirnya memicu kembali konflik antarwarga.
“Persoalan lama kembali memanas setelah mediasi denda adat tidak menemukan titik temu,” ujar Patrige dalam keterangannya.
Situasi semakin memburuk setelah sebuah jembatan gantung di Kali UE dilaporkan roboh saat dilintasi massa. Insiden itu menyebabkan sejumlah warga hanyut dan masih dalam pencarian. ***

