Bantaeng – Pria bernama Suprianto (25), ditemukan tewas di jalan poros Kaloling, tepatnya di Kampung Erasayya, Desa Kaloling, Kecamatan Gantarang Keke, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada 16 Oktober 2025 sekitar pukul 23.55 WITA.
Korban ditemukan dalam posisi tengkurap, bersebelahan dengan sepeda motor miliknya. Awalnya, keluarga menerima kabar bahwa Suprianto meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas saat dalam perjalanan pulang dari Moti ke rumahnya di Pajukukang, Bantaeng.
Namun, seiring berjalannya waktu, keluarga korban meragukan penyebab kematian tersebut, mereka menduga Suprianto tewas akibat dibunuh. “Saya menduga Suprianto dibunuh,” ujar Darwis, kakak kandung korban, kepada Beritasulsel.com jaringan Beritasatu.com, Jumat (23/1/2026).
Sebelum kejadian, lanjut Darwis, Suprianto bersama seorang anggota polisi berinisial RS menuju rumah orang tua RS di Kampung Moti, Desa Bajiminasa, Kecamatan Gantarang Keke.
Setibanya di sana, RS menyuguhi Suprianto minuman keras (miras) lalu RS memesan lagi tujuh botol miras melalui kurir berinisial AW lalu mereka berpesta miras. Setelah mabuk, Suprianto pulang mengendarai sepeda motor.
Beberapa warga melihat Suprianto mengendarai sepeda motor sendirian dan diikuti oleh dua orang dari belakang yang juga masing-masing mengendarai sepeda motor yakni RS dan AW.
Tak lama kemudian, beredar kabar bahwa Suprianto mengalami kecelakaan di Kampung Erasayya dan meninggal dunia. Kemudian RS memposting video kecelakaan tersebut di grup WhatsApp.
Di tempat kejadian, kata Darwis, ditemukan darah serta tanda-tanda yang menunjukkan bahwa korban sempat berpindah tempat, seperti bekas seretan atau diseret.
Lebih lanjut Darwis menjelaskan bahwa sebagai anggota polisi, RS seharusnya melarang Suprianto mengonsumsi miras, bukan justru memfasilitasi.
“Setelah mabuk, seharusnya RS melarang Suprianto pulang mengendarai motor seorang diri. Tapi faktanya, RS biarkan Suprianto pulang sendiri dalam kondisi mabuk. Inilah yang kami anggap janggal,” jelas Darwis.
“Kami sekeluarga tidak terima adik saya disebut meninggal karena kecelakaan lalu lintas, karena kami menduga ini adalah pembunuhan. Kami duga adik kami dibunuh,” tegas Darwis.
“Kami berharap polisi mengusut tuntas kasus ini dan bila perlu, tolong gali kembali kuburan korban lalu otopsi karena kami sekeluarga tidak tenang bila ini tidak diusut tuntas dan tidak terungkap,” pungkas Darwis.
Hingga berita ini ditayangkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait dugaan yang disampaikan keluarga korban. ***
