Parepare — Seorang sopir truk di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, Aswan Hesti, mengeluhkan dugaan penggunaan kode QR (barcode) miliknya untuk pembelian BBM bersubsidi jenis solar tanpa sepengetahuannya di SPBU Ujung Bulu, Parepare.

Keluhan tersebut disampaikan Aswan melalui media sosial Facebook. Ia mengaku barcode miliknya beberapa kali tercatat telah digunakan untuk transaksi pengisian solar, sementara dirinya belum melakukan pengisian pada hari tersebut.

Aswan meminta pihak SPBU memastikan barcode yang digunakan sesuai dengan kendaraan dan nomor polisi yang terdaftar dalam sistem.

“Yang merasa operatornya ini Pertamina Ujung Bulu Parepare, kalau kita lihat barcodenya beda sama platnya, jangan diisi, Bosku,” tulis Aswan dalam unggahannya.

Ia mengaku kecewa karena persoalan serupa telah berulang. Menurut Aswan, dirinya pernah mengalami kondisi ketika hendak mengisi solar, namun kuota dalam sistem telah tercatat habis.

“Bagaimana kalau begini, bermalam kita di Pertamina, pas mau isi solar habis lagi isinya,” keluhnya.

Aswan mengatakan, jika kejadian tersebut baru berlangsung sekali, dirinya mungkin masih dapat memakluminya. Namun, ia menyebut persoalan serupa telah terjadi sebanyak empat kali di SPBU yang sama.

“Seandainya baru satu kali dipakai, tidak apa-apa ji. Ini sudah empat kali mi begini dengan Pertamina yang sama,” tulisnya.

Ia berharap keluhannya mendapat perhatian dari pihak SPBU Ujung Bulu maupun pihak terkait agar persoalan serupa tidak kembali dialami konsumen lainnya.

“Mudah-mudahan dilihat ini pegawainya Pertamina Ujung Bulu Parepare,” lanjut Aswan.

Menanggapi keluhan tersebut, Pengawas SPBU Ujung Bulu, Mulia, mengatakan pihaknya telah menerapkan aturan kepada operator agar tidak melakukan pengisian apabila barcode tidak sesuai dengan kendaraan atau pelat nomor yang terdaftar.

“Yang punya barcode bisa ke SPBU. Karena itu saya sudah terapkan, anak-anak jangan isi kalau tidak sesuai barcode sama platnya,” kata Mulia. Jumat, 21/8/2026.

Mulia mengaku mengetahui persoalan tersebut setelah membaca unggahan Aswan di Facebook. Ia kemudian menyampaikan persoalan tersebut kepada para operator untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

“Saya di atas untuk kontrol. Saya sampaikan ke operator saya. Makanya pas saya baca di Facebook, saya sampaikan mi ke anggota saya, kenapa begini,” ujarnya.

Menurut Mulia, konsumen juga perlu ikut menjaga barcode masing-masing. Ia mengimbau agar barcode yang telah dibuat di SPBU tidak diberikan kepada orang lain untuk digunakan.

“Kadang kalau orang sudah bikin barcode di SPBU, jangan kita lepaskan barcode kita untuk scan sendiri operator, untuk menghindari hal begini,” katanya.

Mulia juga mengingatkan pemilik kendaraan agar berhati-hati apabila kendaraannya digunakan orang lain untuk melakukan pengisian BBM dengan barcode yang terdaftar atas namanya.

“Jangan sampai juga orang lain bawa mobilnya mengisi, bisa-bisa bikin pengakuan soal barcodenya,” ujarnya.

Mulia menyatakan pihaknya terbuka menerima laporan maupun teguran dari konsumen apabila menemukan adanya pengisian yang diduga tidak sesuai dengan barcode dan nomor polisi kendaraan.

Ia bahkan meminta konsumen segera menyampaikan informasi apabila mengetahui adanya operator yang melakukan pengisian tidak sesuai prosedur.

“Saya suka ji kalau langsung ditegur anggota saya. Kalau memang anggota saya tahu siapa yang kasih, bisa disampaikan ke pemilik barcode, siapa tahu baku kenal,” kata Mulia.

Meski demikian, dugaan penggunaan barcode milik Aswan tanpa sepengetahuannya masih perlu ditelusuri lebih lanjut. Belum ada kepastian mengenai bagaimana barcode tersebut dapat tercatat telah digunakan hingga kuota solar bersubsidi miliknya dinyatakan habis.

Penelusuran terhadap data transaksi, kendaraan yang melakukan pengisian, operator yang melayani transaksi, serta rekaman CCTV di SPBU dapat dilakukan untuk mengetahui fakta sebenarnya.

Sementara itu, Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, belum memberikan tanggapan terkait dugaan penggunaan barcode solar subsidi tersebut.

Lilik telah dihubungi melalui pesan WhatsApp untuk meminta klarifikasi dan tanggapan Pertamina Patra Niaga mengenai persoalan tersebut. Namun, hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan yang diberikan.

Pihak Pertamina Patra Niaga diharapkan dapat memberikan penjelasan terkait mekanisme verifikasi barcode, termasuk langkah yang dilakukan apabila ditemukan adanya transaksi yang diduga tidak sesuai dengan kendaraan maupun pemilik barcode.

Kasus tersebut menjadi perhatian karena sistem barcode diterapkan untuk memastikan penyaluran BBM bersubsidi tepat sasaran. Setiap dugaan penyalahgunaan perlu ditelusuri agar tidak merugikan konsumen yang berhak mendapatkan solar bersubsidi. (*)