WAMENA – Konflik atau perang antarsuku kembali pecah di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Bentrokan yang melibatkan sejumlah kelompok warga itu menyebabkan dua orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Kericuhan dilaporkan terjadi di beberapa titik di Kota Wamena dan sekitarnya sejak Kamis (14/5/2026). Aparat kepolisian bersama personel Brimob diterjunkan untuk meredam situasi yang sempat memanas.
Kasi Humas Polres Jayawijaya, Efendi Al Husaini, membenarkan hal itu. Ia mengatakan bahwa bentrokan terjadi antara kelompok suku Hubla atau Kurima dengan suku Lanny.
Perang antarsuku tersebut, kata Efendi, berlangsung di kawasan Jalan Diponegoro Wamena hingga Pasar Wouma.
“Perang suku menyebabkan dua orang meninggal dunia dan belasan lainnya mengalami luka-luka,” ujar Efendi kepada wartawan, Sabtu (16/5/2026).
Selain korban jiwa, lanjit Efendi, sejumlah rumah warga dan honai dilaporkan terbakar di area Kali Uwe Wouma.
Namun hingga kini aparat belum bisa memastikan total kerugian material karena kondisi keamanan di lokasi masih belum sepenuhnya kondusif.
Tidak hanya itu, bentrokan juga dilaporkan terjadi di wilayah Muai, Distrik Hubikiak, yang melibatkan kelompok suku Dani dan suku Lanny. Insiden tersebut menyebabkan beberapa warga mengalami luka ringan.
Berdasarkan data sementara kepolisian, total korban akibat rangkaian konflik horizontal di Jayawijaya mencapai 21 orang. Dari jumlah itu, dua orang dinyatakan meninggal dunia, empat mengalami luka berat, dan 15 lainnya luka ringan.
Situasi yang belum stabil membuat ratusan warga memilih mengungsi ke Markas Polres Jayawijaya untuk mencari perlindungan. Polisi mencatat sedikitnya 472 pengungsi berada di lokasi pengamanan aparat.
Kapolda Papua, Patrige R Renwarin, menjelaskan konflik dipicu persoalan lama yang kembali memanas terkait denda adat dalam kasus kecelakaan lalu lintas pada 2024 lalu.
Peristiwa tersebut diketahui menewaskan seorang anggota DPR asal Kabupaten Lanny Jaya.
“Perselisihan lama kembali muncul dan berujung aksi saling serang,” kata Patrige dalam keterangannya.
Dalam bentrokan itu, kedua kelompok disebut menggunakan senjata tradisional seperti panah dan senjata tajam. Aparat keamanan masih bersiaga di sejumlah titik rawan guna mencegah konflik meluas. ***

