BULUKUMBA – Nasib malang menimpa pasangan suami istri (Pasutri) warga Desa Tanah Harapan, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Pasutri tersebut bernama Kamaruddin (49) dan istrinya Andi Nani (41). Mereka mengaku menjadi korban penipuan bermodus calo penerimaan anggota Polri yang diduga melibatkan oknum polisi berinisial SD dan oknum dokter berinisial RH.
Tak tanggung-tanggung, total kerugian korban mencapai Rp570 juta. Uang tersebut diserahkan dengan harapan anak mereka bisa lulus menjadi anggota polisi melalui jalur yang disebut kedua pelaku sebagai “kuota khusus”.
“Total Rp570 juta habis. Mereka menjanjikan anak saya lulus tanpa tes karena melalui kuota khusus katanya. Mereka bilang, ada kuota khusus katanya, jadi saya tergiur. Namun faktanya, sudah dua kali mendaftar, anak saya tetap tidak lulus,” ungkap Andi Nani kepada Beritasulsel.com jaringan Beritasatu.com, Sabtu (21/3/2026).
Lebih lanjut Andi Nani menjelaskan bahwa, oknum polisi SD berperan sebagai penghubung. Setiap kali dokter RH meminta sejumlah uang, informasi tersebut selalu diteruskan melalui SD.
“Setiap RH minta uang, pasti melalui itu polisi (SD), lalu SD yang meneruskan atau menginfokan ke saya. Jadi semua transaksi dia (SD) ketahui. Tapi setelah anak saya dinyatakan tidak lulus, polisi ini tiba-tiba lepas tangan dan tidak mau mengangkat telepon saya,” ketusnya.
Merasa dikhianati dan dirugikan secara materi, pasutri tersebut akan membawa kasus ini ke ranah hukum dalam waktu dekat. Ia berencana melaporkan perkara tersebut ke Satreskrim Polres Bulukumba sekaligus mengadu ke Propam Polda Sulsel.
Dikonfirmasi terpisah melalui pesan WhatsApp, dokter RH enggan memberikan penjelasan detail terkait tudingan tersebut. Ia hanya menyebutkan bahwa komunikasi dengan pihak keluarga korban sedang berjalan.
“Soal itu (soal anak A. Nani tidak lulus polisi), saya sudah berurusan sama keluarganya, yang jelas keluarganya sudah berkomunikasi. Sekarang saya sedang menelepon dengan keluarganya,” jawab RH singkat.
Sementara itu, SD yang dihubungi melalui sambungan telpon membenarkan bahwa dirinyalah yang memperkenalkan Andi Nani dengan dokter RH di Makassar. Namun, SD membantah terlibat dalam keseluruhan aliran dana Rp570 juta tersebut.
“Saya yang antar Andi Nani bertemu dokter RH di Makassar. Awalnya mereka sepakat Rp570 juta dengan uang muka (panjar) Rp140 juta. Setahu saya hanya Rp140 juta itu,” dalih SD, dikonfirmasi Selasa (31/3).
SD mengaku mulai menarik diri dari persoalan tersebut saat pendaftaran tahap kedua karena merasa ada ketidakkonsistenan terkait permintaan uang tambahan dari dokter RH.
“Waktu dokter RH minta tambahan lagi Rp10 juta di luar kesepakatan awal, saya bilang saya tidak mau tahu lagi dan saya tidak mau terlibat lagi. Jadi pada pendaftaran pertama memang saya yang mempertemukan mereka, tapi untuk pendaftaran kedua saya sudah tidak tahu-menahu,” pungkas SD. ***

