Bantaeng – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) melaksanakan program kerja pembuatan Alat Pengering Kopi Berbasis Efek Rumah Kaca di Desa Bonto Tappalang, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Minggu (9/8). Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja tematik Pertanian dan Teknologi Tepat Guna (TTG).

Program tersebut dilaksanakan sebagai upaya menghadirkan teknologi sederhana yang dapat membantu masyarakat, khususnya petani kopi, dalam proses pengeringan hasil panen. Alat pengering dirancang dengan memanfaatkan energi matahari sehingga dapat digunakan sebagai alternatif dalam proses pengeringan kopi, terutama ketika kondisi cuaca kurang mendukung.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN melakukan proses pembuatan alat secara bertahap, mulai dari pengukuran dan perakitan hingga pemasangan bagian penutup dan penyelesaian alat. Alat tersebut dirancang untuk memudahkan proses pengeringan kopi sekaligus mendukung penanganan hasil pascapanen masyarakat Desa Bonto Tappalang.

“Melalui alat ini, kami berharap proses pengeringan kopi dapat menjadi lebih mudah dan membantu menjaga kualitas hasil pascapanen. Selain itu, alat ini juga diharapkan dapat dimanfaatkan masyarakat secara berkelanjutan,” ujar tim mahasiswa KKN 116.

Pembuatan alat dilakukan melalui kerja sama antaranggota KKN dengan pembagian tugas dalam setiap tahap pengerjaan. Selama proses berlangsung, mahasiswa juga melakukan penyesuaian terhadap desain agar alat dapat berfungsi dengan baik dan mudah digunakan oleh masyarakat. Penerapan alat tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat dalam proses pengeringan kopi.

“Alat seperti ini cukup membantu karena bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengeringkan kopi dengan memanfaatkan panas matahari,” ujar Syamsi.

Melalui program kerja ini, mahasiswa KKN Gelombang 116 Unhas berharap penerapan Alat Pengering Kopi Berbasis Efek Rumah Kaca dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Bonto Tappalang, khususnya dalam mendukung proses pascapanen kopi. Program ini juga diharapkan menjadi salah satu bentuk penerapan teknologi tepat guna yang sederhana, ekonomis, dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. (*)