Beritasulsel.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar pelatihan pembuatan briket dari limbah bonggol jagung sebagai bahan bakar alternatif ramah lingkungan melalui program kerja bertajuk “BRILIAN” (Briket dari Limbah Bonggol Jagung sebagai Bahan Bakar Alternatif Ramah Lingkungan). Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Kayu Loe, Kabupaten Bantaeng, pada Selasa (28/7), menjadi salah satu upaya mendorong pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk yang lebih bermanfaat, sekaligus memperkenalkan alternatif energi yang ekonomis dan ramah lingkungan kepada masyarakat.
Penanggung jawab program kerja Brilian, Muhammad Faiz Ahmadi yang di bimbing oleh Dosen Pembimbing KKN (DPK) Andi Haerul S.Kel M.Si, menjelaskan bahwa pelatihan ini melibatkan langsung masyarakat Desa Kayu Loe yang pada hari itu dihadiri oleh 39 orang warga desa Kayu Loe yang terdiri dari Kepala Desa, Sekretaris Desa, Staff Desa, Kepala Dusun, Kepala RK & RW, PKK, Babinsa, Imam Dusun, BPD, P3MD, serta Warga Desa Kayu Loe dengan mengedepankan praktik langsung sebagai metode utama. Masyarakat diperkenalkan mulai dari tahap pembuatan briket, mulai dari pengolahan limbah bonggol jagung, proses pencampuran bahan, hingga pencetakan dan pengeringan briket agar siap digunakan sebagai bahan bakar alternatif.
“Melalui program ini, kami ingin menunjukkan bahwa limbah bonggol jagung yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomi. Harapannya, masyarakat dapat memanfaatkan potensi limbah pertanian di sekitar mereka menjadi produk yang bermanfaat dan berkelanjutan,” ujar Muhammad Faiz Ahmadi selaku penanggung jawab program kerja Brilian.
Melimpahnya limbah bonggol jagung yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal menjadi latar belakang pelaksanaan program kerja Brilian. Melalui pendekatan teknologi sederhana berbasis zero waste, mahasiswa KKN Unhas Desa Kayu Loe mengolah limbah tersebut menjadi briket bioarang yang ramah lingkungan dan dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif. Inovasi ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi dalam mengurangi limbah pertanian, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sumber daya lokal yang lebih bernilai ekonomis dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, Muhammad Faiz Ahmadi berharap pelatihan ini dapat mendorong masyarakat untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan limbah pertanian menjadi produk yang bernilai guna. Ia juga berharap pengetahuan yang diperoleh masyarakat dapat diterapkan secara mandiri sehingga mampu mendukung pemanfaatan energi alternatif yang ramah lingkungan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah bonggol jagung di Desa Kayu Loe.
Muhammad Faiz Ahmadi menjelaskan bahwa program kerja Brilian hadir untuk memperkenalkan pemanfaatan limbah bonggol jagung yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Melalui demonstrasi pembuatan briket, peserta diperkenalkan dengan proses pengolahan limbah pertanian menjadi bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai guna.
Menanggapi kegiatan tersebut, Zainuddin selaku tokoh masyarakat Desa Kayu Loe menyampaikan apresiasinya terhadap inovasi yang diperkenalkan oleh mahasiswa KKN Unhas. Menurutnya, briket dari limbah bonggol jagung tidak hanya dapat menjadi solusi dalam mengurangi limbah pertanian, tetapi juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai produk bernilai ekonomi.
“Menurut saya, briket dari limbah bonggol jagung ini punya potensi untuk dikembangkan. Selain mengurangi limbah, hasilnya juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar dan dijual ke pedagang, contohnya penjual sate yang memang membutuhkan bahan bakar,” ungkap Zainuddin.
Program kerja Brilian merupakan bagian dari rangkaian kegiatan tematik KKN Universitas Hasanuddin yang berfokus pada pemanfaatan potensi lokal melalui pengolahan limbah pertanian menjadi produk bernilai guna. Program ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya dalam mengurangi permasalahan limbah bonggol jagung sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal sebagai alternatif energi yang ramah lingkungan. (**)


