Beritasulsel.com — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) mendorong masyarakat Desa Pattaneteang, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, memanfaatkan limbah ampas kopi menjadi produk bernilai ekonomi.

Upaya tersebut dilakukan melalui program kerja individu bertajuk “Pembuatan Lilin Aromaterapi Berbahan Dasar Limbah Ampas Kopi sebagai Upaya Pemanfaatan Limbah”, yang dilaksanakan pada 21 Juli 2026.

Program ini menyasar pemanfaatan limbah kopi yang selama ini berpotensi menjadi persoalan lingkungan. Ampas kopi diolah menjadi lilin aromaterapi yang tidak hanya dapat digunakan sebagai produk rumah tangga, tetapi juga berpeluang dikembangkan sebagai usaha skala kecil.

Desa Pattaneteang sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil kopi di Kabupaten Bantaeng. Aktivitas pengolahan dan konsumsi kopi menghasilkan ampas yang apabila tidak dikelola dengan baik dapat menjadi limbah.

Materi edukasi disampaikan Muh. Farid Faira Erbe, mahasiswa Program Studi Teknik Pertanian Unhas. Ia menjelaskan potensi ampas kopi, tahapan pembuatan lilin aromaterapi, hingga peluang peningkatan nilai ekonomi dari pemanfaatan limbah tersebut.

“Ampas kopi yang sering dianggap sebagai limbah masih memiliki potensi untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat. Melalui pembuatan lilin aromaterapi, limbah tersebut dapat memiliki nilai tambah sekaligus menjadi alternatif produk yang ramah lingkungan,” jelas Farid.

Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan lilin aromaterapi. Peserta diperkenalkan pada sejumlah tahapan, mulai dari pencampuran bahan lilin dengan ampas kopi dan pewangi, proses pencetakan, hingga pendinginan.

Masyarakat juga diberi kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung proses pembuatan lilin aromaterapi tersebut.

Kepala Desa Pattaneteang mengapresiasi program yang digagas mahasiswa KKN-T Unhas tersebut. Menurutnya, kegiatan itu memberikan pengetahuan dan inovasi sederhana yang berpotensi diterapkan masyarakat dalam mengolah limbah kopi.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk mengembangkan produk olahan berbasis limbah kopi sehingga mampu mengurangi limbah sekaligus membuka peluang usaha baru,” ujar Kepala Desa Pattaneteang.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-T Gelombang 116 Unhas berharap masyarakat tidak lagi memandang ampas kopi semata sebagai limbah, tetapi sebagai bahan yang masih memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai guna.

Selain mendorong pengurangan limbah, inovasi tersebut diharapkan dapat membuka peluang ekonomi baru sekaligus mendukung pemanfaatan hasil perkebunan kopi secara lebih berkelanjutan di Desa Pattaneteang. (*)