Sidrap – Ketua Inspirasi Wanita Nusantara Indonesia (IWANI) Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Viena Silka, tergerak hatinya untuk membantu Uwa Tira, seorang janda tua yang tinggal di kandang ayam di Desa Lainungan, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap. Saat ini, Viena bersama IWANI sedang menggalang dana untuk membangunkan rumah layak huni bagi Uwa Tira.

“Insya Allah, kami akan mengetuk satu per satu pintu hati para pemerintah dan wakil rakyat di Sulawesi Selatan agar membuatkan Uwa Tira rumah yang layak huni,” ujar Viena Silka kepada beritasulsel jaringan beritasatu.com saat ditemui pada Minggu (19/8/2024).

Viena menegaskan bahwa rakyat miskin adalah tanggung jawab pemerintah, dan tidak boleh ada masyarakat yang diabaikan. “Pemerintah harus bertanggung jawab kepada rakyatnya, dan kita sebagai rakyat juga harus saling bahu-membahu membantu sesama. Karena itu, kami di IWANI akan segera mencari bantuan untuk Uwa Tira,” tambahnya.

Sebelumnya diberitakan, di tengah semarak perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-79, terselip kisah pilu dari Desa Lainungan, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan.

Di desa yang berjarak sekitar 15 kilometer dari ibu kota Kabupaten Sidrap ini, seorang janda tua bernama Uwa Tira harus bertahan hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Wanita berusia 60 tahun ini, tinggal di sebuah kandang ayam bersama cucu laki-lakinya yang masih berusia 7 tahun.

Ke halaman selanjutnya

Ditemui di kandang ayam tersebut di hari di mana pemerintah sedang merayakan hari kemerdekaan RI yang ke-79, tepatnya hari Sabtu 18 Agustus 2024, Uwa Tira bercerita bahwa suaminya meninggal dunia tujuh tahun silam. Sejak saat itu, hidup wanita empat anak ini menjadi terlunta-lunta.

Awalnya, Uwa Tira tinggal di sebuah gubuk reot milik orang lain. Namun, ketika pemilik gubuk tersebut memutuskan untuk merenovasinya, Uwa Tira diusir dan terpaksa pindah ke kandang ayam yang juga bukan miliknya.

Sudah satu tahun Uwa Tira bertahan hidup di kandang ayam tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia hanya mengandalkan pemberian dari orang lain dan berjualan kue keliling kampung.

Penghasilannya pun sangat minim, hanya berkisar antara 30 hingga 40 ribu rupiah per hari, dan sering kali ia mengalami kerugian.

Tiga laki-laki kini merantau dan hanya sesekali mengirim uang, anak perempuannya yang sudah bersuami, tinggal bersama suaminya yang juga bekerja serabutan.

“Bantuan dari pemerintah hanya sekali dalam tiga bulan dengan jumlah yang sangat terbatas, yaitu 300 ribu rupiah,” ucap dia dengan mata berkaca kaca kepada beritasulsel jaringan beritasatu.com

Kini, nasib Uwa Tira kembali terancam. Kandang ayam yang ia tempati akan segera digunakan oleh pemiliknya untuk memelihara ayam, sehingga Uwa Tira dan cucu kesayangannya terancam kehilangan tempat tinggal lagi.

Dalam kondisi yang serba sulit ini, Uwa Tira berharap ada pihak yang bersedia memberikan bantuan, terutama dari pemerintah, agar ia dapat memiliki rumah layak huni untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama cucunya. (***)