Beritasulsel.com – Ketidakhadiran kontingen Kota Parepare dalam defile atau parade kontingen pada pembukaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVIII Sulawesi Selatan 2026 di Kabupaten Bone terus menuai sorotan. Kali ini, kritik datang dari sejumlah netizen yang ramai-ramai menyampaikan sindiran terhadap Pemerintah Kota (Pemkot) Parepare melalui media sosial.
Sorotan tersebut muncul setelah mencuatnya informasi bahwa kontingen Parepare menjadi satu-satunya peserta yang tidak mengikuti defile pada seremoni pembukaan Porprov. Persoalan seragam resmi kontingen disebut menjadi salah satu penyebab ketidakhadiran tersebut.
Sejumlah komentar netizen bahkan secara langsung menyebut Wali Kota Parepare, Tasming Hamid, dan mempertanyakan sikap pemerintah daerah dalam menyikapi kondisi tersebut.
Salah seorang pengguna Facebook, Sip iwe Tsabalala, menuliskan komentar bernada kritik, “Walikota Parepare telah kehilangan rasa malu, gayana ji.”
Komentar lainnya datang dari Ilyasfox Ilyas yang mempertanyakan apakah pemerintah daerah tidak merasa malu dengan kondisi tersebut.
Sementara itu, akun Enjel Kurir menulis sindiran, “Sibuk walikota kpn g,” sedangkan Putra Bugis justru menyindir bahwa tidak mengikuti defile membuat kontingen Parepare terhindar dari panasnya suasana di lapangan.
Kritik yang lebih tajam juga disampaikan Nandar Andae dengan komentar, “deppa na lisu modala,e..” yang bernada mempertanyakan kondisi keuangan daerah.
Netizen lainnya, Harthono Rahman, turut menyinggung persoalan anggaran. Ia mempertanyakan kondisi keuangan daerah yang disebut bermasalah untuk kebutuhan makan siang, sementara kegiatan atau event pemerintah tetap berjalan.
Ada pula komentar Ansya Fathvinder yang menilai Wali Kota seharusnya tetap hadir dalam kegiatan pembukaan agar masyarakat mengetahui kondisi pengelolaan olahraga di daerah.
Sindiran terhadap Tasming Hamid juga terlihat dalam komentar Arsyad Sade yang menuliskan, “TSM (Tabbe Siri’ Masyarakat) Parepare.”
Sementara M Haris Syah menggunakan akronim TSM dengan kepanjangan bernada sindiran terhadap kondisi Parepare.
Berdasarkan tangkapan layar yang beredar, unggahan tersebut memperoleh 44 reaksi, 26 komentar, dan tiga kali dibagikan. Jumlah tersebut menunjukkan adanya perhatian pengguna media sosial terhadap persoalan yang menimpa kontingen Parepare.
Menanggapi polemik ketidakhadiran kontingen Parepare dalam defile, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Pemuda dan Olahraga (Disdikbudpora) Parepare, Mardiah, menjelaskan bahwa terdapat sejumlah kendala teknis yang dihadapi atlet saat seremoni pembukaan berlangsung.
Menurutnya, beberapa atlet masih harus mengikuti pertandingan karena jadwal pertandingan berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan defile.
Selain itu, terdapat atlet yang telah menyelesaikan pertandingan, tetapi tidak sempat menuju lokasi seremoni karena terkendala akses, kepadatan kendaraan, serta jarak yang cukup jauh.
“Jadi, kondisi ini lebih kepada kendala waktu dan mobilitas di lapangan. Namun, tentu kami berharap ke depan koordinasi dan pengaturan teknis bisa lebih baik lagi,” jelas Mardiah.
Terkait persoalan pakaian defile, Mardiah menyebut pihaknya telah menyalurkan sebanyak 200 baju kepada atlet yang berada di Kabupaten Bone.
Ia menjelaskan, kontingen Parepare terbagi di dua lokasi pertandingan, yakni Kabupaten Bone dan Kabupaten Wajo. Jumlah atlet yang berada di Wajo, kata dia, memang lebih banyak dibandingkan dengan yang berada di Bone.
“Karena itu, pendistribusian pakaian kami sesuaikan dengan keberadaan dan kebutuhan atlet di masing-masing lokasi,” ungkapnya.
Penjelasan tersebut menjadi klarifikasi Pemkot Parepare atas sorotan mengenai ketidakhadiran kontingen dalam defile serta persoalan distribusi seragam. Meski demikian, polemik tersebut tetap menjadi perhatian publik, terutama terkait kesiapan teknis dan koordinasi penyelenggaraan kontingen daerah dalam mengikuti agenda pembukaan Porprov.
Aktivis Jaringan Oposisi Loyal (JOL), Muhammad Ikbal, mengatakan bahwa sorotan netizen ini menambah panjang polemik seputar partisipasi Parepare dalam Porprov XVIII Sulsel 2026.
Sebelumnya, keberangkatan kontingen juga menjadi perhatian setelah muncul pemberitaan mengenai ketidakhadiran Wali Kota dan Wakil Wali Kota Parepare dalam pelepasan atlet, persoalan kelengkapan seragam, hingga keluhan mengenai dukungan pemerintah daerah terhadap kebutuhan kontingen.
“Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana perhatian dan dukungan Pemkot Parepare terhadap pembinaan serta partisipasi atlet dalam ajang olahraga tingkat provinsi,” ucap Ikbal, Minggu (8/11/2026).
Menurut dia, Porprov semestinya menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk menunjukkan dukungan terhadap atlet yang membawa nama daerah.
Karena itu, persoalan kebutuhan dasar kontingen, termasuk seragam dan konsumsi, menjadi hal yang ikut dipertanyakan publik. (*)


