Beritasulsel.com – Musyawarah Kecamatan (Muscam) Dewan Pengurus Kecamatan (DPK) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Tellulimpoe mulai menghangat. Sejumlah nama mulai diperbincangkan untuk memimpin organisasi kepemudaan tersebut periode 2026–2029. Salah satunya Sukirman, yang akrab disapa Uki.
Uki dinilai memiliki modal pengalaman organisasi dan kedekatan dengan kalangan pemuda. Ia tercatat pernah menjabat Ketua BEM UIN periode 2015–2016, pengurus Himpunan Pelajar Mahasiswa Sinjai (Hipmas) periode 2013–2016, serta Wakil Ketua Karang Taruna.
Di kalangan pemuda Tellulimpoe, Uki juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kepemudaan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu modal yang menguatkan peluangnya dalam kontestasi pemilihan Ketua DPK KNPI Tellulimpoe.
Namun, popularitas dan pengalaman organisasi dinilai belum cukup menjadi ukuran untuk memimpin KNPI. Tantangan yang dihadapi pemuda Tellulimpoe membutuhkan kepemimpinan yang mampu menghadirkan program nyata dan berkelanjutan.
Persoalan pengangguran setelah menyelesaikan pendidikan, terbatasnya ruang kreativitas, hingga ancaman penyalahgunaan narkoba dan pergaulan bebas di kalangan remaja menjadi sejumlah isu yang membutuhkan perhatian serius.
Di sisi lain, KNPI diharapkan tidak hanya aktif dalam kegiatan seremonial, seperti pelantikan dan rapat organisasi, tetapi juga mampu menghadirkan program yang berdampak langsung terhadap pemberdayaan pemuda.
Uki sendiri mengusung visi “Pemuda Tellulimpoe Bergerak, Berdaya, dan Bermartabat serta Lebih Berkarakter”.
Untuk mewujudkan visi tersebut, ia menawarkan tiga misi utama. Pertama, konsolidasi total dengan mengaktifkan kembali organisasi kepemudaan di 11 desa dan kelurahan di Kecamatan Tellulimpoe.
Kedua, mendorong pemuda produktif melalui pelatihan keterampilan, pengembangan wirausaha muda, serta digitalisasi UMKM yang dikelola kalangan pemuda.
Ketiga, membangun gerakan kepedulian sosial dan lingkungan dengan memberikan perhatian terhadap pencegahan narkoba, penanganan stunting, serta kegiatan kebersihan lingkungan.
Mantan Wakil Ketua DPD KNPI Kabupaten Sinjai, Andi Irwan Kadir, mengingatkan bahwa visi dan misi pemberdayaan pemuda bukan sesuatu yang baru dalam setiap kontestasi pemilihan ketua KNPI.
Menurutnya, hampir semua kandidat dari periode ke periode menyampaikan gagasan serupa. Karena itu, hal yang paling penting adalah rekam jejak dan kemampuan kandidat membuktikan bahwa program yang ditawarkan benar-benar dapat dijalankan.
“Yang membedakan adalah bukti bahwa pernah membuat program yang berjalan lebih dari satu kali. Apakah ia pernah memperjuangkan anggaran kepemudaan di desa? Atau selama ini hanya aktif saat ada momentum pemilihan?” ujarnya.
Ia mengingatkan agar KNPI tidak sekadar dijadikan kendaraan untuk kepentingan pribadi maupun politik.
“Jangan sampai DPK KNPI Tellulimpoe hanya jadi batu loncatan untuk kepentingan pribadi dan politik. Pemuda butuh ketua yang mau capek, bukan ketua yang hanya mau nama,” tegasnya.
Meski memberikan catatan kritis terhadap visi dan misi kandidat, Andi Irwan mengaku percaya Uki memiliki kapasitas untuk menjawab tantangan kepemudaan di Tellulimpoe.
Keyakinan tersebut, kata dia, didasarkan pada keterlibatan Uki dalam kegiatan sosial dan kepemudaan, termasuk ketika dirinya masih menjabat sebagai Kepala Desa Lembang Lohe.
Ia mengungkapkan, saat itu Uki yang menjabat Wakil Ketua Karang Taruna Lembang Lohe pernah mengajukan proposal anggaran kegiatan kepemudaan kepadanya.
Pengalaman tersebut, menurut Andi Irwan, menjadi salah satu bukti bahwa Uki tidak hanya berbicara tentang pemberdayaan pemuda, tetapi juga pernah mengambil langkah untuk memperjuangkannya.
Sementara itu, Uki menyatakan komitmennya untuk mengajak seluruh elemen pemuda bangkit bersama apabila dipercaya memimpin DPK KNPI Tellulimpoe.
Ia berharap KNPI ke depan tidak lagi terjebak dalam rutinitas organisasi yang minim dampak, melainkan menjadi wadah konsolidasi, kreativitas, dan pemberdayaan generasi muda.
Kontestasi Muscam KNPI Tellulimpoe periode 2026–2029 pun menjadi momentum bagi para kandidat untuk menunjukkan bukan hanya popularitas dan gagasan, tetapi juga kapasitas serta rekam jejak dalam memperjuangkan kepentingan pemuda. (*)


