Beritasulsel.com — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) melaksanakan program kerja berupa Sosialisasi Pengantar Energi Baru
Terbarukan (EBT) dan Pelatihan Modul Learning Panel Surya kepada siswa-siswi di SMP Negeri 55 Makassar, Kecamatan Tamalate, pada Rabu (29/07).
Program edukasi lingkungan ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran generasi muda mengenai urgensi krisis iklim. Siswa diberikan pemahaman komprehensif mengenai perubahan iklim yang
dipicu oleh tingginya emisi Gas Rumah Kaca (GRK) akibat penggunaan bahan bakar fosil. Fenomena yang memerangkap panas di bumi ini berdampak serius pada rusaknya keseimbangan cuaca, memicu bencana ekstrem, ancaman bagi ekosistem, hingga berisiko buruk pada kesehatan masyarakat.
“Langkah edukatif dari adik-adik mahasiswa Unhas ini sangat vital dan relevan dengan tantangan lingkungan saat ini. Pemahaman mengenai dampak krisis iklim dan pentingnya transisi ke energi
terbarukan memang harus ditanamkan sejak dini agar siswa kami menjadi generasi yang peduli dan bijak dalam menggunakan energi,” tutur Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMPN 55 Makassar.
Sebagai wujud pengenalan solusi atas emisi karbon, mahasiswa KKN memfasilitasi pelatihan praktik menggunakan modul pembelajaran Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Melalui modul peraga ini, siswa diajak mengamati secara langsung proses efek fotovoltaik, yaitu ketika pancaran sinar (foton) dari matahari ditangkap oleh panel surya dan diubah menjadi aliran listrik tanpa menghasilkan polusi gas rumah kaca.
“Pelatihannya seru sekali, kami jadi bisa merangkai langsung panel suryanya dan melihat bagaimana cahaya matahari bisa menghidupkan lampu. Dari materi ini, kami juga belajar kalau langkah-langkah kecil seperti menghemat listrik di kelas bisa ikut membantu bumi kita,” ungkap salah satu perwakilan siswa SMPN 55 Makassar yang mengikuti pelatihan.
Melalui implementasi program inovatif ini, mahasiswa KKN Gelombang 116 Unhas berharap wawasan mitigasi krisis iklim dapat mendorong partisipasi aktif para siswa. Sebagai generasi penerus, langkah nyata seperti berhemat energi, memanfaatkan transportasi ramah lingkungan, serta mengembangkan ketertarikan pada inovasi EBT diharapkan menjadi kebiasaan baru demi terciptanya
lingkungan yang berkelanjutan. (*)


