Beritasulsel.com – Persoalan sampah di Kota Makassar tengah menjadi sorotan. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA)
Antang bahkan mendapat sanksi administratif dari Kementerian Lingkungan Hidup akibat pengelolaan yang belum optimal, dengan luas kawasan yang tertimbun sampah kini telah melampaui 20 hektare.

Kebijakan baru pun diberlakukan mulai 1 Agustus 2026: TPA Antang hanya akan menerima sampah residu, sehingga warga wajib memilah sampah sejak dari rumah
masing-masing.

Merespons kondisi tersebut, mahasiswa/i Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas), dengan Penanggung Jawab Kegiatan, Athifah Nur Rahman MD, menggelar sosialisasi pemilahan sampah kepada 20 siswa perwakilan kelas di
UPT SPF SMP Negeri 55 Makassar, Kamis (30/7).

Dalam sesi tersebut, peserta terlebih dahulu dibekali pemahaman dasar mengenai definisi sampah, klasifikasi jenis sampah organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), hingga residu, serta konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sebagai langkah nyata yang dapat diterapkan sehari-hari.

Materi kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi SiPilah, website edukasi pilah sampah berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dikembangkan sebagai output program kerja. Berbeda dari sekadar penyampaian teori, peserta diajak mencoba langsung fitur pemindaian sampah: mengarahkan kamera ke suatu objek, mengambil foto, lalu melihat sendiri bagaimana sistem AI mengklasifikasikannya sebagai sampah organik atau anorganik dalam hitungan detik.

Website tersebut juga memuat halaman edukasi berisi klasifikasi jenis sampah lengkap dengan contoh dan hasil pengolahannya, seperti kompos dan ecobrick, serta kuis interaktif yang
terintegrasi langsung di dalamnya.

“Banyak peserta yang awalnya penasaran kenapa hasil deteksinya bisa berbeda-beda
tergantung sampah yang difoto. Dari situ, saya jelaskan sedikit bagaimana AI ini sebenarnya belajar mengenali pola dari data, supaya mereka tidak hanya memakai teknologinya, tapi juga paham kira-kira bagaimana cara kerjanya,” ujar Athifah, mahasiswi Program Studi Sistem
Informasi Unhas tersebut.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi kuis menggunakan platform Wayground yang diikuti seluruh peserta. Suasana kelas yang awalnya riuh dengan sorak sorai peserta mendadak tenang, mereka berlomba menjawab seluruh pertanyaan dengan tepat dan secepat mungkin. Semangat kompetitif ini, menurut Athifah, justru menjadi indikator bahwa pesan mengenai pemilahan sampah lebih mudah melekat ketika disampaikan lewat cara yang menyenangkan.

Kegiatan yang menjadi bagian dari program kerja KKN-T 116 Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, ini turut ditutup secara resmi oleh Kepala UPT SPF SMP Negeri 55 Makassar. Melalui program tersebut, Athifah berharap kebiasaan memilah sampah dapat mulai ditanamkan sejak usia sekolah, sebagai bagian dari kontribusi kecil menghadapi persoalan
sampah yang kian mendesak di Kota Makassar. (*)