SIDRAP – Uwa Tira, seorang janda berusia 60 tahun yang tinggal di Desa Lainungan, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap, kini bisa bernafas lega.
Setelah tinggal selama satu tahun di kandang ayam bersama cucunya yang berusia tujuh tahun, perhatian publik melalui media sosial akhirnya mengubah nasibnya.
Setelah kisahnya diberitakan lalu viral, pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos) langsung terbang dari Jakarta ke Kabupaten Sidrap menyambangi Uwa Tira dan memberikan bantuan.
Bantuan yang diberikan berupa peralatan dapur, tempat tidur, perlengkapan sekolah untuk sang cucu, lemari pakaian, serta peralatan memasak.
Selain itu, kesehatan Uwa Tira dan cucunya juga diperiksa secara menyeluruh oleh pihak medis.
Tidak hanya bantuan dari Kemensos, bantuan juga datang dari Kepolisian setempat, yakni Polres Sidrap jajaran Polda Sulsel.
Kapolres Sidrap, AKBP Dr. Fantry Taherong, beserta sejumlah personelnya, baru-baru ini mengunjungi kandang ayam yang selama ini menjadi tempat tinggal Uwa Tira.
Dalam kunjungan tersebut, mantan Baggaketika Rowabprof Divpropam Polri ini juga memberikan bantuan berupa sembako dan uang tunai.
Selain itu, bantuan berupa rumah kayu, dibangun di atas tanah milik Uwa Tira.
“Bantuan dari Kemensos sangat lengkap, mulai dari peralatan dapur seperti periuk, wajan, tabung gas lengkap dengan kompornya, pakaian untuk cucunya, lemari, kasur, hingga rosban, dan lain lain,” ujar Viena Silka, Ketua IWANI Sidrap yang berperan dalam memperjuangkan nasib Uwa Tira, Senin (26/8/2024).
“Kepolisian juga turut membantu, bantuan yang diberikan berupa sembako, uang tunai, dan pembangunan rumah untuk Uwa Tira. Saat ini bangunannya dalam proses. Tadi sore, tanah yang akan dijadikan tempat mendirikan rumah sudah diratakan menggunakan eskavator,” tambahnya.

Viena juga menjelaskan bahwa ada bantuan lain berupa uang tunai dari beberapa pihak, termasuk aktivis, Kapolres Sidrap, dan Lazismu, yang totalnya sekitar tiga juta rupiah. Uang ini akan digunakan sebagai modal usaha Uwa Tira untuk berjualan kue.
Kendati demikian, bantuan masih dibutuhkan yakni boks tempat berjualan yang nantinya akan didirikan di pinggir jalan. Dengan boks ini, Uwa Tira tidak perlu lagi keliling kampung menjajakan kue.
“Dia bisa berjualan di boks tersebut, melayani pengguna jalan seperti sopir, warga, dan anak-anak sekolah yang melintas,” pungkas Viena.
Saat ini, Uwa Tira tidak lagi tinggal di kandang ayam. Untuk sementara waktu, janda beranak empat tersebut telah direlokasi ke rumah tetangganya sambil menunggu rumah barunya yang dibangun oleh Polisi siap dihuni.
Kepada beritasulsel jaringan beritasatu.com, Uwa Tira mengungkapkan rasa syukurnya kepada tuhan yang maha esa dan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah memberi bantuan terutama kepada pihak Kemensos dan Kepolisian.
Bersambung ke halaman selanjutnya >>>>
Sebelumnya diberitakan, Di tengah semarak perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-79, terselip kisah pilu dari Desa Lainungan, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan.
Di desa yang berjarak sekitar 15 kilometer dari ibu kota Kabupaten Sidrap ini, seorang janda tua bernama Uwa Tira harus bertahan hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Wanita berusia 60 tahun ini, tinggal di sebuah kandang ayam bersama cucu laki-lakinya yang masih berusia 7 tahun.
Ditemui di kandang ayam tersebut di hari di mana pemerintah sedang merayakan hari kemerdekaan RI yang ke-79, tepatnya hari Sabtu 18 Agustus 2024, Uwa Tira bercerita bahwa suaminya meninggal dunia tujuh tahun silam. Sejak saat itu, hidup wanita empat anak ini menjadi terlunta-lunta.
Awalnya, Uwa Tira tinggal di sebuah gubuk reot milik orang lain. Namun, ketika pemilik gubuk tersebut memutuskan untuk merenovasinya, Uwa Tira diusir dan terpaksa pindah ke kandang ayam yang juga bukan miliknya.
Sudah satu tahun Uwa Tira bertahan hidup di kandang ayam tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia hanya mengandalkan pemberian dari orang lain dan berjualan kue keliling kampung.
Penghasilannya pun sangat minim, hanya berkisar antara 30 hingga 40 ribu rupiah per hari, dan sering kali ia mengalami kerugian.
Tiga laki-laki kini merantau dan hanya sesekali mengirim uang, anak perempuannya yang sudah bersuami, tinggal bersama suaminya yang juga bekerja serabutan.
“Bantuan dari pemerintah hanya sekali dalam tiga bulan dengan jumlah yang sangat terbatas, yaitu 300 ribu rupiah,” ucap dia dengan mata berkaca kaca kepada beritasulsel jaringan beritasatu.com
Kini, nasib Uwa Tira kembali terancam. Kandang ayam yang ia tempati akan segera digunakan oleh pemiliknya untuk memelihara ayam, sehingga Uwa Tira dan cucu kesayangannya terancam kehilangan tempat tinggal lagi.
Dalam kondisi yang serba sulit ini, Uwa Tira berharap ada pihak yang bersedia memberikan bantuan, terutama dari pemerintah, agar ia dapat memiliki rumah layak huni untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama cucunya. (***)
