PINRANG – Diduga keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG), delapan siswa-siswi Pesantren Al-Mustafa Kanipang, Desa Sabbang Paru, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel), dilarikan ke Puskesmas untuk mendapatkan perawatan.
Informasi yang dihimpun, delapan santri tersebut masing-masing berinisial AYS(12), YSN (13), NA (12), AK (13), AKH (12), ADS (13), MTMH (13), dan AYS (13). Mereka dilarikan ke Puskesmas Tuppu, Kecamatan Lembang pada hari Kamis, 29 Januari 2026, sekitar pukul 10.00 WITA.
Saat itu, mereka mengeluh pusing dan mual setelah mengonsumsi MBG yang dibagikan di Pesantren pada hari Rabu, 28 Januari 2026.
Makanan MBG yang dikonsumsi diduga tidak layak, khususnya lauk ayam kuah kuning yang disebut belum matang dan sudah berbau basi. Menu MBG tersebut terdiri dari nasi putih, ayam kuah kuning, tempe goreng kecap, pisang, timun, dan tomat.
Kepala Puskesmas (Kapus) Tuppu dr.Syamsul Hanar, yang dikonfirmasi membenarkan hal itu.
“Iya, delapan siswa-siswi Pesantren Al-Mustafa Kanipang dirawat karena diduga keracunan makanan usai mengonsumsi MBG. Namun mereka sudah dipulangkan ke rumah masing masing. Sesuai arahan Pimpinan. Untuk informasi mengenai MBG kemarin semuanya satu pintu di Dinkes Pinrang, supaya tidak ada informasi yang bias, silahkan koordinasi dengan Dinkes” ungkapnya.
Terpisah, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mustafa Kanipang, H. Mustapa Tangali,
yang dikonfirmasi menyampaikan bahwa santri yang diduga mengalami keracunan makanan, sempat menjalani perawatan selama 24 jam di Puskesmas Tuppu. Namun, ia memastikan kondisi para santri kini telah membaik.
“Alhamdulillah, anak-anak sudah masuk sekolah kembali setelah dirawat. Kemarin, tepatnya hari Jumat, mereka sudah kembali ke asrama semua,” ujar Ustadz Mustapa saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (31/1/2026).
Lebih lanjut Mustafa mengatakan bahwa berdasarkan hasil koordinasi dengan tim kesehatan dan para pembina di pondok, ditemukan bahwa kendala bukan pada kualitas bahan baku, melainkan pada sirkulasi udara di dapur tempat pengolahan MBG.
“Tim kesehatan, menemukan bahwa dapur tidak memiliki siklus udara yang memadai, Kondisi ruangan yang pengap menyebabkan bahan masakan atau makanan yang sudah jadi menjadi cepat basi,” ucapnya. (***)
