Beritasulsel.com — Jusuf Kalla mengakhiri masa tugasnya sebagai Wakil Presiden RI periode 2014-2019 dengan manis. Sosok yang dikenal dekat dengan semua kalangan ini, pengabdiannya pada bangsa dan negara telah teruji di berbagai kesempatan dan ruang yang membutuhkan ide-ide cemerlang dan sikap tegas dan lugas dengan kemaslahatan bangsa.

Sebagai kilas balik sebelumnya Jusuf Kalla digandeng calon presiden Joko Widodo dalam ajang Pemilihan Presiden 2014. Pasangan ini kemudian dalam pengundian mendapat nomor urut dua dan mempunyai tagline populer, “Salam Dua Jari”. Oleh Komisi Pemilihan Umum, tanggal 22 Juli 2014 atau enam hari sebelum Hari Raya Idul Fitri 1435 H, Jokowi-JK memenangkan pilpres namun ditolak oleh kubu Prabowo-
Hatta yang kemudian menggugat ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Serangkaian sidang di MK ternyata menolak permohonan kubu Prabowo-Hatta dan secara hukum menguatkan legitimasi Jokowi-JK selaku presiden dan wapres terpilih periode 2014-2019. JK dilantik sebagai wapres pada 20 Oktober 2014. Seiring dengan pelantikannya tersebut, ia adalah wakil presiden pertama yang terpilih untuk dua kali masa jabatan melalui pemilihan umum. Masa jabatan pertama dilaluinya bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono periode 2004-2009. “Pak JK itu adalah juru damai dan guru bangsa, dekat dengan semua kalangan,” ujar Husain Abdullah, juru bicara (jubir) Wapres JK di salah satu TV Nasional.

Jusuf Kalla menjabat sebagai menteri di era pemerintahan Abdurrahman Wahid (Presiden RI yang ke-4). Jusuf Kalla kembali diangkat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat di bawah pemerintahan Megawati Soekarnoputri (Presiden RI yang ke-5). Jusuf Kalla kemudian mengundurkan diri sebagai menteri karena maju sebagai calon wakil presiden, mendampingi calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Bersama-sama dengan Susilo Bambang Yudhoyono, keduanya menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI yang pertama kali dipilih secara langsung oleh rakyat.

Ia menjabat sebagai ketua umum Golongan Karya menggantikan Akbar Tanjung sejak Desember 2004 hingga 9 Oktober 2009. Pada 10 Januari 2007, ia melantik 185 pengurus Badan Penelitian dan Pengembangan Kekaryaan Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golongan Karya di Slipi, Jakarta Barat, yang mayoritas anggotanya adalah cendekiawan, pejabat publik, pegawai negeri sipil, pensiunan jenderal, dan  pengamat politik yang kebanyakan bergelar master, doktor, dan profesor.

Melalui Munas Palang Merah Indonesia XIX, Jusuf Kalla terpilih menjadi ketua umum Palang Merah Indonesia periode 2009–2014 dan terpilih untuk kedua kalinya pada Munas XX untuk periode 2014–2019 Selain itu ia juga terpilih sebagai ketua umum Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia periode 2012–2017 dalam Muktamar VI DMI di Jakarta.

Jusuf Kalla yang menikah dengan Hj. Mufidah Miad Saad, dan dikaruniai seorang putra dan empat putri, serta sepuluh orang cucu, mengakhiri masa tugasnya dengan begitu manis. Untuk kedua kalinya, Jusuf Kalla (JK) akan purna dari jabatannya sebagai wakil presiden (wapres).

Kemarin, JK menyampaikan pidato terakhir jabatannya di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jumat (18/10/2019). Tak disangka, kata per kata yang disampaikan JK malah membuat Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menteri Keuangan Sri Mulyani berlinang air mata. Detik-detik jelang purna tugas, JK masih harus menjalani beberapa agenda, salah satunya adalah meresmikan lembaga dana kerja sama pembangunan internasional atau Indonesian Agency for International Development (AID) di Kantor Kemenlu, Jalan Pejambon, Jakarta Pusat. Dalam pidatonya, JK menyelipkan kata-kata pamit setelah lima tahun bertugas menjadi wapres.

“Karena hari ini hari-hari terakhir kerja bagi saya, selama lima tahun jadi wakil presiden dan pidato saya ini pidato terakhir, ini terakhir betul, nanti sore akan makan-makan dengan presiden saja,” kata JK. “Setelah pidato kurang lebih 5 tahun, kurang lebih 600 pidato, ini pidato ke 601,” sambungnya. Retno dan Sri yang saat itu berada di samping JK tampak sibuk menyeka air matanya. Rasa haru tidak lagi dapat disembunyikan oleh keduanya.

Kemudian JK menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Kemenlu yang telah bekerja sama dalam pemerintahan periode 2014-2019. JK mengungkapkan Kemenlu RI yang paling sering direpotkan olehnya ketika menjalani tugas ke luar negeri. “Tentunya saya ingin menyampaikan terima kasih kepada jajaran yang selalu bekerja sama dan membantu selama lima tahun,” tuturnya. “Barangkali saya pejabat yang paling sering ke luar negeri, di samping menteri luar negeri tentu, yang paling merepotkan,” sambung JK.(ab/pg)