Beritasulsel.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Hasanuddin (Unhas) memperkenalkan pemanfaatan limbah bonggol jagung menjadi biochar atau arang hayati sebagai alternatif pembenah tanah untuk meningkatkan kualitas lahan pertanian di Desa Kayu Loe, Kabupaten Bantaeng.
Inovasi tersebut diperkenalkan melalui program kerja COBCHAR (Corn Cob Biochar) yang digelar di Kantor Desa Kayu Loe pada Selasa (29/7). Program ini bertujuan mengoptimalkan limbah pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal sekaligus memberikan solusi bagi petani dalam menghadapi tantangan musim kemarau.
Desa Kayu Loe diketahui memiliki potensi limbah bonggol jagung yang cukup melimpah. Namun, sebagian besar limbah tersebut belum diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Melalui program ini, mahasiswa KKN memperkenalkan biochar sebagai arang hayati yang mampu meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air dan unsur hara sehingga dapat membantu menjaga produktivitas lahan.
Sebanyak 39 peserta mengikuti kegiatan sosialisasi tersebut. Peserta terdiri atas Kepala Desa, Sekretaris Desa, perangkat desa, kepala dusun, ketua RK dan RW, anggota PKK, Babinsa, imam dusun, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), P3MD, kelompok tani, hingga masyarakat setempat.
Dalam kegiatan itu, peserta mendapatkan pemaparan mengenai pengertian biochar, proses pembuatannya melalui teknik pirolisis, manfaatnya bagi kesuburan tanah, hingga cara pengaplikasiannya di lahan pertanian. Tim KKN juga menampilkan contoh biochar yang telah diproduksi sebagai media edukasi agar masyarakat dapat melihat langsung bentuk dan karakteristik arang hayati tersebut.
Penanggung Jawab Program Kerja COBCHAR, Muhammad Farhan Rafael, mengatakan kegiatan tersebut merupakan upaya memperkenalkan inovasi sederhana berbasis potensi lokal yang dapat memberikan manfaat nyata bagi sektor pertanian.
“Melalui program ini, kami berupaya memperkenalkan biochar sebagai salah satu bentuk pemanfaatan limbah bonggol jagung yang memiliki manfaat nyata bagi sektor pertanian. Kami berharap masyarakat dapat melihat bahwa limbah pertanian tidak harus berakhir sebagai sampah, tetapi dapat diolah menjadi arang hayati yang bernilai guna, mendukung keberlanjutan lingkungan, serta memberikan manfaat bagi produktivitas lahan,” ujarnya.
Program kerja tersebut dilaksanakan di bawah bimbingan Dosen Pembimbing KKN (DPK) Andi Haerul, S.Kel., M.Si.
Selain mengenalkan teknologi sederhana pengolahan limbah pertanian, kegiatan ini juga mendorong masyarakat untuk menerapkan pengelolaan limbah secara berkelanjutan. Biochar dinilai dapat menjadi alternatif yang mudah diterapkan petani untuk menjaga kesuburan tanah sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan air pada lahan pertanian.
Perwakilan Kelompok Tani Desa Kayu Loe, Usmar, mengapresiasi pelaksanaan sosialisasi tersebut. Menurutnya, materi yang disampaikan memberikan wawasan baru mengenai pemanfaatan limbah bonggol jagung yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat.
“Sosialisasi ini memberikan manfaat yang besar dan menambah wawasan masyarakat, khususnya kelompok tani di Desa Kayu Loe. Kami menjadi lebih memahami bahwa limbah bonggol jagung dapat dimanfaatkan menjadi biochar yang bermanfaat untuk memperbaiki kualitas tanah dan membantu mempertahankan kelembapan tanah saat musim kemarau. Kami berharap pengetahuan ini dapat menjadi referensi bagi masyarakat dalam mengembangkan praktik pertanian yang lebih berkelanjutan,” kata Usmar.
Melalui Program COBCHAR, mahasiswa KKN Unhas berharap pemanfaatan limbah pertanian tidak hanya mampu mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga menjadi inovasi yang mendukung ketahanan sektor pertanian di tingkat desa. Program tersebut diharapkan dapat menjadi solusi sederhana berbasis potensi lokal yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Desa Kayu Loe. (*)


