Parepare – Kelangkaan elpiji subsidi 3 kilogram (Kg) atau gas melon mulai dikeluhkan warga di sejumlah wilayah di Kota Parepare jelang Hari Raya Iduladha, Selasa (26/5/2026).

Selain sulit didapatkan, harga gas subsidi tersebut juga dilaporkan melonjak hingga Rp30 ribu per tabung di tingkat pengecer.

Salah seorang warga Kota Parepare, Anca, mengaku telah berkeliling mencari gas melon di sejumlah pengecer, namun tidak berhasil.

“Sepertinya mulai langka di Parepare. Saya keliling tadi mencari tabung gas tiga Kilogram di pengecer tapi tidak ada kudapat,” ujar Anca kepada Beritasulsel.com jaringan Beritasatu.com, Selasa 26 Mei 2026.

Keluhan serupa disampaikan warga lainnya. Mereka menyebut elpiji 3 Kg masih tersedia di beberapa pengecer, namun dijual jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Ada ji di pengecer, tapi harga 30rb,” keluh warga lain.

Warga menduga kelangkaan tersebut dipicu distribusi yang tidak merata. Bahkan, muncul dugaan adanya pangkalan yang sengaja menahan stok LPG subsidi untuk dijual saat harga mengalami kenaikan.

“Ditunggu langka, setelah naik harganya baru dijual,” ungkap salah seorang sumber yang tidak ingin disebut namanya.

Diketahui, pemerintah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG 3 kilogram di tingkat pangkalan berkisar antara Rp16 ribu hingga Rp19 ribu per tabung.

Menanggapi keluhan masyarakat, Kepala Dinas Perdagangan Kota Parepare, Andi Wisna, memastikan stok LPG subsidi di Parepare sebenarnya masih tersedia.

“Berdasarkan hasil kunjungan di SPBE PT Luwu Raya di Lumpue kemarin, stok elpiji subsidi 3 kg. Informasi yang kami terima bahwa kebutuhan elpiji khusus Kota Parepare sebanyak 7.280 tabung per hari,” ucapnya, Selasa (26/5).

Ia juga meminta masyarakat melaporkan pangkalan yang mengalami kekosongan stok agar dapat segera ditindaklanjuti.

“Sekiranya ada yang kesulitan untuk mendapatkan gas di pangkalan mana?” tambahnya.

Terkait kenaikan harga di tingkat pengecer, pihak Dinas Perdagangan mengaku telah melakukan pemantauan hingga ke pangkalan LPG.

“Terkait kenaikan harga kami sampai di pihak pangkalan. Tapi sampai saat ini harga sesuai HET Rp18.500,” jelasnya.

Menurut Andi Wisna, distribusi LPG subsidi dari agen ke pangkalan sejauh ini masih berjalan normal. Namun, keterlambatan distribusi terjadi akibat antrean pengisian di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE).

“Antrian terjadi karena SPBE Barru untuk sementara belum beroperasi karena pengurusan dokumen, sehingga yang harusnya mengisi di SPBE Barru terpaksa mengisi di SPBE Lumpue sehingga terjadi antrean panjang,” pungkasnya. (***)