Beritasulsel.com — LSM Koalisi Masyarakat Anti Korupsi (KOMA) menyoroti pelaksanaan kegiatan Safari Ramadan yang dirangkaikan dengan Ramadan Fair Volume 5 di Lapangan Andi Makkasau, Kota Parepare, Sulawesi Selatan.
Sekretaris KOMA, Ricki Syahrul, menilai kegiatan yang digelar oleh BPC Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Parepare tersebut diduga melanggar ketentuan jam operasional.
Menurutnya, masih terdapat wahana permainan yang beroperasi hingga melewati batas waktu yang ditentukan.
“Beberapa hari terakhir kami melihat masih ada wahana permainan yang beroperasi hingga sekitar pukul 23.30 Wita atau lewat tengah malam. Ini jelas melanggar ketentuan jam operasional,” kata Ricki, dalam keterangannya. Jumat, 6/3/2026.
Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari agenda yang difasilitasi Pemerintah Kota Parepare, sehingga seharusnya ada panitia pelaksana yang bertanggung jawab terhadap jalannya kegiatan.
“Ini kan hajatan pemerintah kota. Artinya ada panitia pelaksana yang bertanggung jawab memastikan kegiatan berjalan sesuai aturan,” ujarnya.
Ricki juga mempertanyakan pengawasan dari pihak terkait, baik dari unsur pemerintah maupun pihak swasta yang bekerja sama dengan Pemkot Parepare dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
Menurutnya, hal tersebut sangat disayangkan terjadi di bulan Ramadan yang seharusnya menjadi momentum untuk menjaga ketertiban dan nilai-nilai kebersamaan di masyarakat.
Selain persoalan jam operasional, KOMA juga menyoroti dugaan pungutan dalam penyewaan tenda serta pengelolaan sektor parkir selama kegiatan berlangsung.
Ia mengingatkan agar fasilitas umum tidak terkesan diprivatisasi oleh pihak tertentu dalam penyelenggaraan event.
“Jangan sampai ada kesan bahwa fasilitas umum menjadi privat oleh oknum pelaku event,” tegasnya.
Ricki menilai kegiatan serupa kerap digelar hampir setiap bulan dengan konsep yang berbeda namun melibatkan pihak yang sama.
Ia pun mendorong Pemerintah Kota Parepare untuk menghadirkan terobosan baru guna menarik minat investor dari luar daerah.
“Pemerintah kota seharusnya mulai mencari terobosan baru untuk mengundang animo masyarakat luar Parepare atau investor agar mau menanamkan modalnya di kota ini, bukan hanya memutar uang masyarakat lokal melalui berbagai event,” katanya.
Menurutnya, jika kondisi tersebut terus terjadi, maka tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan dan kemajuan daerah.
“Jangan sampai kota ini justru mendapat julukan baru sebagai ‘Kota Event’, tetapi tidak memberikan dampak nyata terhadap perkembangan ekonomi daerah,” pungkasnya. (*)


