Maros – Seekor ular sanca kembang betina berukuran raksasa yang ditemukan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), resmi mencatatkan diri sebagai ular liar terpanjang di dunia.

Guinness World Records (GWR) mengesahkan rekor tersebut setelah pengukuran ilmiah menyatakan bahwa panjang ular mencapai 7,22 meter dengan bobot 96,5 kilogram.

Pengumuman rekor dunia itu dirilis GWR melalui situs resminya pada Rabu (4/2/2026). Proses pengukuran dilakukan secara ketat pada 18 Januari 2025, melibatkan tim profesional dan mengikuti standar ilmiah internasional.

Ular tersebut diukur dari ujung kepala hingga ekor menggunakan pita ukur survei khusus, dalam kondisi aman dan terkendali. Saat ditimbang, berat tubuh hewan melata tersebut tercatat 96,5 kilogram, meski diketahui belum memangsa hewan berukuran besar.

“Jika ular ini baru saja makan, bobotnya sangat mungkin menembus angka 100 kilogram,” ungkap pemandu satwa liar berlisensi, Diaz Nugraha, yang terlibat langsung dalam proses dokumentasi.

GWR juga mencatat bahwa ketika ular berada dalam kondisi benar-benar rileks saat dibius, panjang tubuhnya berpotensi bertambah hingga sekitar 10 persen, mendekati 7,9 meter.

Namun, potensi tersebut tidak dimasukkan dalam perhitungan resmi karena pembiusan hanya diperbolehkan untuk alasan medis dan keselamatan.

Ular raksasa itu kini berada dalam perawatan konservasionis lokal Budi Purwanto di Maros. Individu betina tersebut diberi nama Ibu Baron dan ditempatkan di kandang khusus berukuran luas guna mencegah konflik lanjutan dengan warga.

Diketahui, Ibu Baron pertama kali dievakuasi pada Desember 2024, setelah kemunculannya di kawasan permukiman memicu kekhawatiran masyarakat. Sejak saat itu, Ibu Baron bergabung dengan sejumlah satwa liar lain yang diselamatkan Purwanto dari ancaman pembunuhan atau perburuan.

Dokumentasi dan verifikasi keberadaan ular tersebut juga melibatkan fotografer dan penjelajah alam asal Eropa, Radu Frentiu, yang secara langsung menyaksikan proses pengukuran dan penimbangan di lokasi.

Sebagai informasi, konflik antara manusia dan ular sanca kembang di Maros bukan fenomena baru. Individu berukuran besar kerap dianggap ancaman serius, terutama bagi ternak dan hewan peliharaan. Meski tidak berbisa, sanca kembang dikenal mematikan karena kemampuan lilitannya yang kuat.

“Tekanan terhadap habitat dan berkurangnya mangsa alami akibat perburuan liar membuat ular-ular ini semakin sering masuk ke wilayah permukiman,” kata Nugraha.

Selain dibunuh karena dianggap berbahaya, ular sanca kembang juga menjadi target perdagangan ilegal satwa eksotis.

Padahal, spesies ini merupakan ular terpanjang di dunia, dengan panjang rata-rata antara 3 hingga 6 meter, dan individu terbesar umumnya adalah betina.

Meski memegang rekor terpanjang di dunia, sanca kembang ini masih kalah dari anaconda hijau dalam hal bobot tubuh. GWR mencatat anaconda sebagai spesies ular terberat yang pernah diverifikasi.

Sebelum rekor Maros ini, rekor sanca liar terpanjang dunia dipegang individu betina sepanjang 6,95 meter dari Kalimantan Timur (Kaltim) pada tahun 1999.

Sejumlah klaim ular berukuran lebih dari 7 meter kerap muncul, bahkan hingga 10 meter, namun klaim itu tidak pernah didukung bukti pengukuran ilmiah.

Dengan pengesahan ini, Ibu Baron kini tercatat sebagai bukti terverifikasi terkuat dalam sejarah modern tentang keberadaan ular liar terpanjang di dunia. ***