Beritasulsel.com — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Zero Waste Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) mengedukasi siswa UPT SPF SMPN 31 Makassar mengenai konsep zero waste, pemilahan dan pengelolaan sampah, serta praktik pembuatan eco-brick.

Kegiatan yang merupakan program kerja individu tersebut dilaksanakan selama dua hari, mulai Rabu (5/8/2026), dengan melibatkan siswa kelas VIII di ruang kelas sekolah.

Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan kepedulian siswa terhadap persoalan sampah sekaligus mengenalkan cara sederhana dalam mengurangi dan mengolah sampah residu.

Mahasiswa KKN, Evelyna Layadi dari Program Studi Ilmu Hukum dan Raya Raffaell Abdillah Sumady dari Program Studi Ilmu Hukum, terlebih dahulu memberikan materi mengenai zero waste, pemilahan sampah, dan pengelolaan sampah.

Penyampaian materi dikemas melalui diskusi dua arah. Para siswa diberi kesempatan menyampaikan pendapat dan menjawab pertanyaan sehingga suasana pembelajaran berlangsung interaktif.

Untuk memperkuat pemahaman, mahasiswa KKN juga mengadakan permainan pemilahan sampah secara berkelompok. Melalui permainan tersebut, siswa diajak membedakan jenis sampah berdasarkan kategorinya sekaligus melatih konsentrasi dan kerja sama.

Kegiatan kemudian dilanjutkan pada hari berikutnya dengan praktik pembuatan eco-brick. Para siswa menggunakan sampah yang sebelumnya telah mereka bawa dari rumah, terutama sampah residu seperti kemasan makanan ringan.

Dalam praktik tersebut, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan diberikan pembagian tugas. Sebagian siswa mencacah sampah, sementara lainnya memasukkan sampah ke dalam botol plastik dan memadatkannya. Siswa lainnya turut mengumpulkan sampah untuk memenuhi botol hingga cukup padat.

Penanggung jawab program, Evelyna Layadi, mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar siswa tidak hanya memahami persoalan sampah secara teori, tetapi juga mampu mengolahnya melalui kegiatan yang kreatif dan sederhana.

Menurutnya, eco-brick dapat menjadi salah satu cara untuk memanfaatkan sampah residu, khususnya kemasan berbahan Multi-Layer Plastic (MLP), agar tidak langsung berakhir sebagai sampah yang dibuang.

“Kami ingin anak-anak paham bahwa tidak semua sampah itu tidak bernilai. Beberapa sampah dapat diolah kembali menjadi apa saja dan memiliki nilai, bahkan dapat digunakan kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujar Evelyna.

 

Ia berharap kegiatan tersebut dapat mengubah cara pandang siswa terhadap sampah sehingga sampah tidak hanya dianggap sebagai beban, tetapi juga dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna.

Sementara itu, penanggung jawab pendamping program, Raya Raffaell Abdillah Sumady, mengatakan edukasi mengenai pengelolaan sampah sejak usia sekolah penting untuk membangun kesadaran lingkungan.

“Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan anak-anak menjadi lebih paham dan memiliki kepedulian atas isu-isu mengenai sampah. Selain itu, anak-anak juga memiliki kesadaran untuk memilah dan mengolah sampahnya,” katanya.

Raya juga berharap siswa dapat menjadi penggerak di lingkungan keluarga dengan mengajak orang tua maupun orang-orang di sekitarnya menerapkan kebiasaan memilah dan mengolah sampah.

Apresiasi terhadap kegiatan tersebut disampaikan Wakil Urusan Kesiswaan UPT SPF SMPN 31 Makassar, Syamsuddin Sitaba, S.Pd.

Ia menilai kegiatan yang dikemas melalui diskusi dan praktik dapat membantu siswa memahami persoalan sampah secara lebih konkret.

Menurut Syamsuddin, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah akan memberikan dampak lebih besar apabila dibarengi dengan praktik sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan untuk meningkatkan pemahaman siswa dan masyarakat mengenai pentingnya memilah sampah berdasarkan jenisnya, mengurangi timbulan sampah, serta mengelola sampah secara mandiri.

Upaya tersebut dinilai penting untuk mendukung terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. (*)