Meru, Malaysia – Mahasiswa Universitas Hasanuddin (UNHAS) yang tergabung dalam program KKN Internasional Gelombang 115 melaksanakan rangkaian program kerja edukatif di Sanggar Bimbingan (SB) Meru, Malaysia. Program ini bertujuan untuk memberikan penguatan identitas nasional serta literasi keuangan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia yang berada di perantauan.

Program “Rupiah Pertamaku: Menanamkan Nilai Uang pada Anak Indonesia di Perantauan” merupakan kegiatan individu yang diinisiasi oleh Andi Sya Fritzie Puteri Lapatau pada Selasa (27/01).

Program ini dilaksanakan dengan menyasar siswa kelas tengah di SB Meru menggunakan pendekatan pembelajaran yang menyenangkan (fun learning) untuk memperkenalkan mata uang negara asal mereka.

Kegiatan diawali dengan pemaparan materi interaktif mengenai pengenalan fisik mata uang Rupiah menggunakan uang asli satu per satu. Antusiasme siswa terlihat sangat tinggi, di mana beberapa anak baru pertama kali melihat dan memegang langsung uang Indonesia, sementara yang lainnya mengenali mata uang tersebut dari milik orang tua mereka.

Dalam sesi ini, siswa juga diajak melakukan kuis edukatif serta membandingkan nilai Rupiah dengan Ringgit Malaysia untuk memberikan pemahaman dasar mengenai nilai tukar.

Selain pengenalan mata uang, program ini menekankan pentingnya kebiasaan menabung sejak dini. Anak-anak diajak merefleksikan alasan mereka ingin menabung, yang dituangkan dalam jawaban-jawaban menyentuh hati seperti keinginan untuk pulang ke Indonesia, membahagiakan orang tua, hingga tabungan untuk masa depan.

Sebagai bentuk dukungan nyata, mahasiswa KKN UNHAS membagikan celengan kepada para siswa sebagai penyemangat untuk mulai menyisihkan uang jajan mereka secara rutin.

Sebagai puncak sekaligus penutup rangkaian program, dilaksanakan kegiatan Pasar Mini. Simulasi ini memungkinkan anak-anak mempraktikkan proses transaksi jual-beli secara langsung, yang tidak hanya mengasah kemampuan berhitung mereka tetapi juga memberikan kegembiraan melalui interaksi sosial yang edukatif.

Secara keseluruhan, pelaksanaan program kerja ini menjadi wujud nyata dedikasi mahasiswa Universitas Hasanuddin dalam mendukung pendidikan anak-anak Indonesia di luar negeri. Melalui kehadiran yang tulus di Sanggar Bimbingan Meru, diharapkan kegiatan ini mampu menanamkan nilai-nilai kesabaran, rasa bersyukur, serta kebanggaan terhadap identitas bangsa meskipun jauh dari tanah air.

Bagi Andi Sya Fritzie, perjalanan di Sanggar Bimbingan Meru ini bukan sekadar pengabdian akademik, melainkan sebuah ruang pendewasaan diri yang mempertemukannya dengan arti ketulusan yang sesungguhnya. Di balik setiap materi yang diajarkan, tersimpan memori manis berupa catatan-catatan kecil dari siswa serta pelukan hangat yang menjadi pengingat bahwa jarak ribuan kilometer dari tanah air tidak menyurutkan semangat anak-anak Indonesia untuk terus bermimpi.

Pengabdian ini pada akhirnya meninggalkan jejak yang mendalam bahwa menjadi seorang pendidik adalah tentang memberi dengan hati, sebuah pelajaran kehidupan berharga yang akan terus dibawa seumur hidup. (*)