Wajo – Judi sabung ayam bangkok marak di Desa Kalola, Kecamatan Maniangpajo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Informasi awal diperoleh dari sejumlah warga yang mengaku resah karena digelar secara besar-besaran dari sore hingga pagi dan diduga dibekingi oknum polisi.

Untuk memastikan kebenaran informasi tersebut, Beritasulsel.com jaringan Beritasatu.com melakukan investigasi langsung ke lokasi pada Rabu malam, 7 Januari 2026.

Hasilnya, di lokasi yang tidak jauh dari Kantor Desa Kalola, terlihat aktivitas judi sabung ayam bangkok berlangsung secara terbuka.

Dua arena sabung ayam dibuka sekaligus di samping rumah warga. Puluhan bahkan diduga ada ratusan sepeda motor dan puluhan mobil terparkir di sekitar lokasi, yang diduga milik para penyabung dari berbagai daerah.

Tak hanya sabung ayam, di lokasi yang sama juga tampak permainan judi kartu domino yang digelar secara bebas.

Sejumlah penjual makanan pun tampak berjualan, seolah lokasi tersebut merupakan arena hiburan legal seakan bukan praktik perjudian yang melanggar hukum.

Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa aktivitas tersebut telah berlangsung lama dan terorganisir tanpa adanya rasa khawatir terhadap penindakan aparat.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Wajo, Iptu Fahrul, yang dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp awalnya mengatakan bahwa tidak ada judi sabung ayam di Desa Kalola.

Tapi saat wartawan mengirimkan foto hasil dokumentasi langsung di lokasi, Iptu Fahrul langsung membalas dengan ucapan terima kasih.

“Baik terimakasih infonya pak,” ucap Fahrul.

Warga pun mempertanyakan, apakah aparat benar-benar tidak mengetahui judi yang berlangsung terbuka itu, atau justru selama ini terjadi pembiaran.

“Sudah lama sekali ini sabung ayam, bukan baru sekarang. Kami menduga ada pembiaran dan diduga bekingi oknum polisi,” ungkap salah seorang warga yang minta identitasnya dirahasiakan demi alasan keamanan.

Warga berharap polisi bertindak tegas dan menutup arena sabung ayam tersebut secara permanen, bukan sekadar melakukan penindakan saat kasus viral lalu membiarkannya beroperasi ketika perhatian publik meredup. ***