Mamasa — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Rantebulahan, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, kembali menuai kritik. Aktivis Jaringan Oposisi Loyal (JOL) Mamasa, Kindar Ritonga, menilai menu yang diterima siswa tidak sebanding dengan anggaran yang disebut mencapai Rp15 ribu per porsi.
Kritik itu disampaikan Kindar pada Senin, menyusul beredarnya foto dan laporan siswa terkait menu MBG yang diterima. Menurut dia, siswa hanya memperoleh satu butir telur, dua roti panada, dan sebungkus kacang goreng.
“Jika anggarannya Rp15 ribu per porsi, perlu dijelaskan komposisi biayanya. Menu yang diterima siswa hanya satu telur, dua panada, dan sebungkus kacang goreng,” kata Kindar kepada wartawan.
Program MBG merupakan kebijakan nasional yang dijalankan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah koordinasi Badan Gizi Nasional (BGN). Program ini bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan bertujuan meningkatkan asupan gizi peserta didik serta menekan angka stunting.
Menurut Kindar, dapur MBG di Rantebulahan diduga dikelola oleh Yayasan Palla Walipu Grup. Ia menyebut telah menerima laporan dari seorang siswa di SMP Indo Lembang Salumaka yang membawa pulang menu MBG dan menunjukkan langsung kepada warga.
Ia juga mengaku telah mencoba mengonfirmasi pihak SPPG, namun belum memperoleh tanggapan. “Kami menduga pengelolaan menu tidak sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan petunjuk teknis dari BGN. Karena itu, kami meminta ada transparansi,” ujarnya.
Kindar menyatakan pihaknya akan melaporkan persoalan tersebut kepada kepala kantor SPPG dan aparat penegak hukum agar dilakukan pemeriksaan. Ia menegaskan pengawasan diperlukan agar penggunaan anggaran negara tepat sasaran. (*)


