Bantaeng, Sulsel – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Pemberdayaan Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) Posko Desa Bonto Tappalang, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, menghadirkan sebuah inovasi media informasi berupa Infografis Kalender Budidaya Kopi Berbasis Pola Hujan.

Program kerja ini dilaksanakan oleh Reza Anjelina Cahya, mahasiswa Program Studi Statistika, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing KKN (DPK) Taufiqqurrahman Zulkifli, S.T., M.T. Kegiatan berlangsung di Dusun Benteng Bola, Desa Bonto Tappalang, pada 6–10 Agustus 2026.

Program tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi produksi kopi di Desa Bonto Tappalang yang menurun tajam dalam beberapa tahun terakhir. Kopi merupakan komoditas perkebunan unggulan yang mencakup sekitar 55% luas wilayah desa dan menjadi sumber penghidupan bagi kurang lebih 200 kepala keluarga (KK).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume produksi kopi sempat stabil di kisaran 1.000–1.200 ton per tahun pada periode 2015–2020, sebelum akhirnya turun drastis hingga hanya sekitar 391 ton per tahun sejak 2022. Kondisi ini diduga berkaitan dengan pergeseran pola dan intensitas curah hujan bulanan yang membuat waktu kegiatan budidaya petani tidak lagi sesuai dengan kondisi iklim aktual.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN-T Unhas melakukan identifikasi masalah melalui wawancara langsung dengan petani kopi setempat, dilanjutkan dengan pengumpulan dan pengolahan data klimatologi historis selama 24 tahun (2001–2024) serta data produksi kopi dari publikasi resmi BPS Kabupaten Bantaeng. Data curah hujan bulanan tersebut kemudian dianalisis menggunakan pendekatan runtun waktu dan pemodelan musiman SARIMA untuk memproyeksikan kecenderungan pola hujan hingga tahun 2027.

Hasil analisis menunjukkan bahwa curah hujan pada 2025 diperkirakan lebih tinggi di awal tahun, terutama Januari–Februari, kemudian menurun dan mencapai titik terendah sekitar Agustus–September. Pola yang relatif lebih kering juga diperkirakan masih berlanjut pada 2026–2027. Curah hujan bulanan tersebut dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yakni basah, lembap, dan kering, lalu dipadukan dengan siklus fenologi tanaman kopi untuk menyusun kalender budidaya yang adaptif terhadap iklim.

Dari hasil tersebut, disusunlah kalender budidaya kopi yang membagi kegiatan tahunan petani ke dalam empat fase, yaitu tanam dan pembungaan (November–Januari), pertumbuhan dan pemeliharaan (Februari–April), pematangan dan panen (Mei–September), serta pemulihan dan pembentukan buah (Oktober–Desember). Setiap fase memuat rekomendasi teknis, mulai dari waktu tanam bibit, pemupukan, pengendalian hama penggerek buah kopi (PBKo), hingga jadwal panen dan konservasi air. Seluruh informasi tersebut kemudian dirancang dan divisualisasikan ke dalam satu lembar infografis yang ringkas, sistematis, dan mudah dipahami oleh petani.

Reza Anjelina Cahya menyampaikan bahwa infografis tersebut disusun agar informasi klimatologi yang bersifat teknis dapat diterjemahkan menjadi panduan praktis yang mudah digunakan oleh petani. “Melalui infografis ini, kami berharap petani kopi di Desa Bonto Tappalang dapat merencanakan waktu pemangkasan, pemupukan, pengendalian hama, hingga waktu panen secara lebih presisi, sehingga risiko kerusakan bunga dan buah kopong akibat kemarau panjang dapat diminimalkan,” ujarnya.

Infografis ini diharapkan dapat menjadi referensi sederhana namun berbasis data bagi sekitar 200 KK petani kopi di Dusun Benteng Bola dalam menghadapi ketidakpastian iklim yang semakin nyata.

Dengan adanya kalender budidaya berbasis pola hujan ini, pengambilan keputusan di tingkat petani diharapkan dapat lebih adaptif dan berkelanjutan, sehingga turut mendukung peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat Desa Bonto Tappalang.

Kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata dari program kerja individu KKN-T Pemberdayaan Desa Gelombang 116 Unhas, yang disusun berdasarkan permasalahan aktual yang dihadapi masyarakat di lokasi pengabdian. (*)