Mamasa – Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Kabupaten Mamasa, Hj. Andi Faridha Fachri, menyampaikan keprihatinan mendalam atas viralnya kondisi dua anak di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), yang diduga belum mendapatkan perhatian dan perlindungan yang layak, terutama dalam hal akses layanan kesehatan.
Dua anak tersebut, Salsabila (12 tahun) yang mengidap Epilepsi dan mengalami Stunting sejak lahir, serta adiknya Abizar (7 tahun) yang merupakan penyandang disabilitas dengan Down Syndrome, menjadi sorotan dalam dua hari terakhir.
Kondisi mereka memunculkan pertanyaan serius mengenai pemerataan pelayanan kesehatan dan perlindungan sosial di Kabupaten Mamasa, Sulbar.
“Peristiwa ini bukan sekadar isu viral di media sosial, tetapi menjadi cerminan bahwa masih ada persoalan serius terkait perlindungan anak dan pelayanan sosial di daerah kita,” ujar Andi Faridha dalam keterangannya, dikutip Beritasulsel.com jaringan Beritasatu.com, Senin, 20/4/2026.
Ia menegaskan bahwa kedua anak tersebut merupakan tanggung jawab bersama, terutama pemerintah daerah sebagai pemegang amanah pelayanan publik.
Menurut dia, tidak boleh ada pembiaran ataupun keterlambatan dalam penanganan kasus yang menyangkut keselamatan dan masa depan anak.
Gerindra Mamasa, kata dia, mendesak Pemerintah Kabupaten Mamasa melalui dinas terkait seperti Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan untuk segera turun langsung ke lokasi.
Langkah cepat berupa asesmen lapangan, penanganan medis, serta pemenuhan hak-hak dasar anak dinilai menjadi hal yang mendesak.
“Kami mendorong pemerintah daerah untuk segera melakukan tindakan konkret. Pastikan kedua anak ini mendapatkan perlindungan, perawatan, serta hak-haknya sebagai warga negara,” kata dia.
Persoalan ini, kata dia, sekaligus menjadi pengingat bahwa akses layanan kesehatan di wilayah terpencil masih menghadapi tantangan besar. Oleh karena itu, diperlukan komitmen yang lebih kuat dari pemerintah daerah untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam mendapatkan pelayanan dasar.
“Tidak boleh ada pembiaran. Tidak boleh ada keterlambatan. Karena setiap detik sangat berarti bagi masa depan mereka,” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, Beritasulsel.com jaringan Beritasatu.com belum menerima pernyataan resmi dari Pemerintah Kabupaten Mamasa terkait hal tersebut. (***)

