Beritasulsel.com – Perayaan hari jadi daerah kerap menjadi panggung unjuk kemeriahan. Namun di usia ke-462, Kabupaten Sinjai justru memilih jalur berbeda: merayakan tanpa alokasi anggaran khusus alias zero anggaran.

Keputusan ini bukan sekadar simbolik. Di tengah tuntutan pembangunan dan tekanan fiskal daerah, kebijakan tersebut menjadi penegasan arah tata kelola pemerintahan yang lebih disiplin dan berorientasi prioritas.

Sekretaris DPRD Sinjai, Andi Irwan Syahrani, menjadi figur sentral di balik implementasi konsep tersebut. Ia menilai momentum hari jadi tidak boleh membebani kas daerah, terlebih ketika kebutuhan pembangunan dan pelayanan publik masih menjadi agenda utama.

“Esensinya bukan pada besarnya anggaran, tetapi pada makna dan komitmen kita terhadap daerah,” ujarnya.

Langkah zero anggaran ini sekaligus menjadi ujian konsistensi terhadap semangat efisiensi yang selama ini digaungkan pemerintah daerah. Alih-alih mengajukan proposal pembiayaan besar, DPRD bersama jajaran pemerintah mengoptimalkan sumber daya internal.

Fasilitas yang ada dimanfaatkan, koordinasi lintas sektor diperkuat, dan partisipasi aparatur digerakkan melalui semangat gotong royong.

Tema “Tumbuh Berdaya, Melaju Bersama” pun diterjemahkan dalam konteks nyata: berdaya secara fiskal dan mandiri dalam pelaksanaan kegiatan. Konsep ini mencerminkan upaya membangun budaya kerja yang tidak selalu bergantung pada suntikan anggaran tambahan.

Pengamat menilai, kebijakan ini memberi pesan kuat tentang perubahan paradigma. Bahwa perayaan tidak harus identik dengan belanja besar, dan simbol penghormatan terhadap sejarah dapat dilakukan secara sederhana namun bermakna.

Secara politis dan administratif, pendekatan ini juga memperlihatkan sinkronisasi antara legislatif dan eksekutif. Minimnya sekat sektoral dalam pelaksanaan kegiatan menunjukkan bahwa efisiensi dapat berjalan jika ada kesamaan visi.

Di sisi lain, keputusan tersebut menjadi refleksi atas kondisi ekonomi yang menuntut kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan daerah. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap rupiah APBD benar-benar diarahkan untuk program prioritas dan kesejahteraan masyarakat.
Perayaan Hari Jadi ke-462 akhirnya tidak hanya menjadi agenda tahunan, melainkan penanda komitmen baru dalam tata kelola.

Sinjai mencoba membuktikan bahwa martabat daerah bukan terletak pada kemegahan seremoni, tetapi pada keberanian mengambil kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan pembangunan.

Jika konsistensi ini terus dijaga, zero anggaran bukan sekadar strategi sesaat, melainkan model efisiensi yang bisa menjadi rujukan bagi daerah lain di masa mendatang. (*)