Beritasulsel.com — Manajemen PLTU Barru atau PLTU Bawasalo menggelar pertemuan dan silaturahmi bersama sejumlah awak media di Cafe Hars, Kota Parepare, Selasa (22/9/2026).
Pertemuan tersebut menjadi forum untuk membahas operasional pembangkit, tantangan kondisi cuaca ekstrem, keandalan sistem kelistrikan, serta upaya mitigasi dampak lingkungan, khususnya terkait debu batubara yang dikeluhkan masyarakat sekitar.
Hadir dalam kegiatan itu Asisten Manager Administrasi PLTU Barru, Muhammad Budi Setiawan, didampingi tim humas PLTU, Suryadi dan Susan.
Dalam pemaparannya, Budi menjelaskan posisi strategis PLTU Barru dalam menjaga keandalan pasokan listrik di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar).
Menurut Budi, PLTU Bawasalo saat ini mengoperasikan tiga unit pembangkit, terdiri atas dua unit berkapasitas masing-masing 50 megawatt (MW) dan satu unit baru berkapasitas 100 MW.
Dengan demikian, total kapasitas pembangkit mencapai 200 MW.
Kapasitas tersebut, kata dia, berkontribusi sekitar 9 hingga 10 persen terhadap beban puncak sistem kelistrikan Sulselrabar yang mencapai sekitar 2.100 MW.
“PLTU Bawasalo menjadi salah satu backbone atau tulang punggung sistem kelistrikan Sulselrabar yang melayani tiga provinsi,” ujar Budi.
Budi mengatakan kondisi cuaca, termasuk fenomena El Nino dan musim kemarau yang berkepanjangan, turut memberikan tantangan terhadap sistem kelistrikan di kawasan Sulselrabar.
Penurunan kapasitas produksi sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), termasuk akibat berkurangnya ketersediaan air, membuat PLTU Barru harus mempertahankan operasionalnya secara optimal untuk mendukung pasokan listrik.
Kondisi tersebut berdampak terhadap jadwal pemeliharaan rutin sejumlah mesin pembangkit.
Menurut Budi, pemeliharaan yang sebelumnya direncanakan mulai Juni harus ditunda dan diperkirakan baru dapat dilaksanakan pada November, dengan mempertimbangkan kondisi sistem dan masuknya musim penghujan.
Dalam pertemuan tersebut, persoalan debu batubara yang dikeluhkan warga Dusun Bawasalo, Desa Lampoko, juga menjadi salah satu topik pembahasan.
Manajemen PLTU Barru menyampaikan permohonan maaf atas dampak yang dirasakan masyarakat dan menyatakan komitmen untuk melakukan langkah-langkah mitigasi.
Budi menjelaskan, kondisi angin kencang menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi penyebaran debu dari area penumpukan batubara.
Menurut dia, kecepatan angin yang mencapai lebih dari 35 knot atau sekitar 65 kilometer per jam, sebagaimana peringatan cuaca, dapat menyebabkan debu terbawa angin hingga melewati paranet yang memiliki ketinggian sekitar 10 meter.
Sebagai langkah mitigasi, pihak PLTU mengaku telah melakukan sejumlah upaya.
Pertama, penyiraman rutin dengan air pada tumpukan batubara, area fly ash dan bottom ash (FABA), serta akses jalan di sekitar lokasi. Penyiraman dilakukan tiga kali sehari, yakni pagi, siang, dan sore menjelang malam.
Kedua, mengurangi ketinggian tumpukan batubara dari standar awal sekitar tujuh meter untuk mengurangi dampak terpaan angin terhadap material batubara.
Ketiga, menyediakan air bersih bagi masyarakat. PLTU mengaku telah menempatkan 10 unit tandon air bersih di sejumlah permukiman warga. Tandon tersebut diisi secara rutin dua kali sehari untuk membantu warga yang mengalami kekeringan sumur.
Selain itu, manajemen PLTU menyebut telah melakukan pemantauan kualitas udara secara berkala serta menyiapkan program pengobatan gratis dan penyaluran bantuan sembako bagi masyarakat yang terdampak.
Manajemen PLTU Barru berharap forum silaturahmi tersebut dapat menjadi ruang komunikasi terbuka untuk menerima masukan dari masyarakat, pemangku kepentingan, dan media.
Masukan tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan pengelolaan operasional pembangkit sekaligus memperkuat langkah mitigasi terhadap dampak lingkungan di sekitar PLTU. (*)


