Makassar — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 116 Universitas Hasanuddin di Kejaksaan Negeri Makassar melaksanakan program kerja individu berupa sosialisasi dan pembagian buku saku “DOMPET (Digital untuk Optimasi Manajemen Pengeluaran dan Tabungan)” kepada masyarakat umum dan pelajar di sekitar Kantor Kejaksaan Negeri Makassar pada 7–8 Agustus 2026.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan keuangan pribadi di era digital.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 15 buku saku dibagikan secara langsung kepada masyarakat dan pelajar. Buku tersebut disusun sebagai panduan sederhana dan praktis agar pembaca dapat memahami cara mengelola pengeluaran, membangun kebiasaan menabung, serta menggunakan layanan keuangan digital secara lebih aman dan bijaksana.
Program kerja individu tersebut dilaksanakan oleh Sitti Lutfiyah Saputri, mahasiswa KKN 116 Universitas Hasanuddin di Kejaksaan Negeri Makassar, dengan pendampingan Dr. Syarif Saddam Rivanie Parawansa, S.H., M.H. Buku saku DOMPET disusun dengan tujuan meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan keuangan pribadi, memberikan panduan dalam menyusun anggaran, menumbuhkan kebiasaan menabung, serta mendorong perilaku finansial yang lebih disiplin dan berorientasi pada masa depan.
Penyusunan buku saku tersebut dilatarbelakangi oleh perkembangan teknologi digital yang semakin memudahkan masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan. Penggunaan dompet digital, mobile banking, QRIS, dan aplikasi pencatat keuangan memberikan berbagai kemudahan, tetapi juga dapat meningkatkan perilaku konsumtif apabila tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola keuangan secara bijaksana. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya literasi keuangan diperkenalkan secara sederhana kepada masyarakat, khususnya pelajar dan generasi muda.
Materi dalam buku DOMPET membahas berbagai hal yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun anggaran bulanan, mencatat pengeluaran harian, hingga menghindari pengeluaran impulsif. Pembaca juga diarahkan untuk membuat prioritas dalam menggunakan uang sehingga pengeluaran dapat disesuaikan dengan kemampuan dan tidak melebihi pendapatan.
Selain mengatur pengeluaran, buku saku tersebut memberikan pemahaman mengenai pentingnya membangun kebiasaan menabung sejak dini. Pembaca dapat menentukan target tabungan sesuai kebutuhan dan memilih metode menabung yang sesuai dengan kondisi masing-masing. DOMPET juga membahas pentingnya dana darurat sebagai persiapan menghadapi kebutuhan yang tidak terduga.
Buku DOMPET turut membahas pemanfaatan layanan keuangan digital, seperti mobile banking, dompet digital, dan aplikasi pencatat keuangan. Penggunaan layanan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memantau pemasukan dan pengeluaran dengan lebih mudah. Namun, kemudahan transaksi digital juga perlu disertai dengan kesadaran terhadap keamanan data, seperti tidak membagikan PIN, kata sandi, kode OTP, maupun data pribadi kepada pihak lain.
Sebagai salah satu panduan praktis, buku ini memperkenalkan metode 50-30-20, yaitu mengalokasikan 50 persen pendapatan untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk keinginan, dan 20 persen untuk tabungan, investasi, atau dana darurat. Metode tersebut dapat digunakan sebagai salah satu pilihan sederhana dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan persiapan keuangan di masa depan.
Pemilihan masyarakat umum dan pelajar sebagai sasaran kegiatan diharapkan dapat memperluas pemahaman mengenai pentingnya mengelola keuangan sejak dini. Melalui buku saku yang menggunakan bahasa sederhana, penerima diharapkan dapat mempelajari kembali materi yang diberikan dan mulai menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti mencatat pengeluaran, menyusun anggaran, mengurangi pembelian yang tidak diperlukan, serta menyisihkan sebagian uang untuk tabungan.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN berharap buku saku DOMPET tidak hanya menjadi media informasi, tetapi juga dapat mendorong terbentuknya kebiasaan finansial yang lebih sehat dan teratur. Pengelolaan keuangan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, sehingga masyarakat dapat lebih bijak dalam menggunakan uang dan mempersiapkan tujuan keuangan di masa depan. (*)


