MAROS – Empat orang anak dilaporkan tewas tenggelam di sejumlah bekas tambang galian C yang berubah menjadi kubangan air dan empang di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Rentetan peristiwa tragis tersebut terjadi di dua kecamatan berbeda di Kabupaten Maros pada hari Sabtu (16/5/2026).

Informasi yang dirangkum Beritasulsel.com jaringan Beritasatu.com, insiden pertama terjadi di Lingkungan Tamarampu, Kelurahan Bontoa, Kecamatan Mandai, sekitar pukul 11.30 WITA.

Korban berinisial AZ (10), seorang siswi sekolah dasar diduga terpeleset saat bermain bersama teman-temannya di sekitar bekas galian tambang yang telah berubah menjadi empang.

Tim SAR gabungan bersama personel BPBD langsung diterjunkan ke lokasi usai menerima laporan warga.

Setelah dilakukan pencarian, korban ditemukan di dasar kubangan dalam keadaan meninggal dunia.

Belum lama setelah proses evakuasi korban pertama selesai, BPBD kembali menerima laporan dua anak tenggelam di lokasi lain yang masih berada di Kecamatan Mandai.

Kedua korban yang dilaporkan tenggelam di lokasi tersebut diketahui berinisial HF (4) dan AB (8).

Warga setempat sempat melakukan upaya penyelamatan dengan mengevakuasi kedua korban dari dalam air. Namun saat berhasil diangkat ke daratan, kondisi keduanya sudah tidak bernyawa.

Pada malam harinya sekitar pukul 21.22 WITA, tragedi serupa kembali terjadi di Dusun Jambulo, Desa Pabentengang, Kecamatan Marusu. Seorang anak laki-laki berinisial BL (9) dilaporkan tewas tenggelam.

Petugas BPBD bersama aparat pemerintah desa langsung menuju lokasi setelah menerima laporan dari warga untuk membantu proses penanganan korban.

Towadeng, Kepala Badan Penaggulangan Bencana Daera (BPBD) Maros yang dikonfirmasi oleh awak media membenarkan adanya kejadian empat bocah tewas akibat tenggelam di bekas tambang galian C di Kabupaten Maros hanya dalam satu hari.

Olehnya itu, Towaden mengimbau masyarakat, khususnya para orang tua, agar lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak saat bermain di luar rumah.

“Kami mengimbau orang tua agar tidak membiarkan anak-anak bermain di sekitar bekas galian tambang atau kubangan yang berpotensi membahayakan keselamatan,” kata Towadeng. (***)