Beritasulsel.com — Penyaluran bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di SPBU 74.907.05, Desa Cilellang, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, menuai sorotan. Ketika warga mengaku berulang kali mendapat informasi stok solar telah habis, aktivitas pengisian BBM ke sejumlah jeriken justru disebut masih terlihat di lokasi.
Situasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai transparansi penyaluran solar bersubsidi, mulai dari ketersediaan stok, mekanisme pembelian menggunakan jeriken, hingga pengawasan terhadap distribusi BBM yang diperuntukkan bagi konsumen yang berhak.
Sorotan itu menguat setelah sebuah mobil minibus Isuzu Panther berwarna silver dengan nomor polisi DD 1431 AZ dilaporkan terlihat melakukan aktivitas yang diduga berkaitan dengan pemindahan BBM dari kendaraan ke sejumlah jeriken di SPBU yang berada di poros Parepare–Barru tersebut, Sabtu (10/10/2026).
Seorang warga mengaku telah tiga hari bolak-balik mendatangi SPBU Cilellang untuk mendapatkan solar. Namun, menurut pengakuannya, ia tidak berhasil memperoleh BBM karena berulang kali mendapat informasi bahwa stok telah habis.
“Sudah tiga hari saya bolak-balik tidak pernah dikasih, katanya habis terus. Padahal masih ada antrean mobil dan jeriken,” ungkap warga tersebut.
Ia menyebut kondisi serupa telah diperhatikannya selama beberapa minggu terakhir. Menurut dia, situasi itu menimbulkan tanda tanya ketika masyarakat kesulitan mendapatkan solar, sementara pengisian menggunakan jeriken disebut masih berlangsung.
Warga tersebut juga mempertanyakan dasar pembelian solar menggunakan jeriken dalam jumlah yang dinilainya cukup banyak, terlebih jika BBM itu disebut diperuntukkan bagi kebutuhan pertanian.
“Yang jadi pertanyaan bagi kami, di Kabupaten Barru belum masuk musim tanam. Dan pembelian BBM solar dengan jeriken di lokasi itu melebihi kuota yang biasa dipakai untuk menanam,” ujarnya.
Dalam penelusuran awak media, muncul pula informasi mengenai dugaan penampungan solar bersubsidi di wilayah tersebut.
Berdasarkan penuturan seorang sopir kepada awak media, dugaan penampungan itu disebut berkaitan dengan seseorang berinisial HAS alias LBT.
Warga sebelumnya mengaku melihat petugas SPBU dan seorang personel kepolisian dari Polsek setempat berada di lokasi ketika aktivitas pengisian ke jeriken berlangsung.
Persoalan ini membutuhkan penjelasan dari pengelola SPBU dan pihak yang bertanggung jawab atas distribusi BBM bersubsidi, terutama terkait kesesuaian antara informasi stok habis yang diterima warga dengan aktivitas pengisian ke jeriken yang mereka laporkan.
Media ini telah menghubungi Area Manager Communication, Relation dan CSR Pertamina Patra Niaga, Lilik Hardiyanto, untuk meminta konfirmasi mengenai mekanisme penyaluran solar bersubsidi di SPBU Cilellang, termasuk dugaan ketidaksesuaian informasi stok dan aktivitas pengisian ke jeriken.
Namun, hingga berita ini disusun, Lilik Hardiyanto belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi tersebut.
Belum adanya tanggapan membuat pertanyaan mengenai mekanisme penyaluran dan pengawasan solar bersubsidi di SPBU tersebut belum memperoleh penjelasan dari pihak Pertamina Patra Niaga.
Warga meminta adanya klarifikasi dari pengelola SPBU dan Pertamina untuk memastikan apakah pengisian BBM menggunakan jeriken dilakukan sesuai ketentuan, bagaimana stok solar dikelola, serta apakah terdapat prosedur dan dokumen pendukung yang dipersyaratkan untuk pembelian tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa solar bersubsidi merupakan BBM yang penyalurannya diatur pemerintah dan diperuntukkan bagi konsumen yang memenuhi kriteria. Karena itu, setiap dugaan ketidaksesuaian dalam distribusinya perlu diperiksa berdasarkan bukti, dokumen transaksi, dan ketentuan yang berlaku.
Pemeriksaan, jika diperlukan, dapat mencakup catatan penjualan, volume BBM yang disalurkan, transaksi pembelian menggunakan jeriken, serta tujuan penggunaan BBM yang dibeli. Keterangan dari pengelola SPBU, Pertamina Patra Niaga, dan instansi berwenang juga diperlukan agar persoalan ini dapat dinilai secara objektif. (*)


