Bulukumba – Pelaksana tugas (Plt) Ketua Umum Pengurus Besar Kerukunan Keluarga amahasiswa (PB KKMB) Bulukumba, Yurdinawan, mengaku geram dengan kondisi yang terjadi saat ini di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), di mana tambang ilegal diduga semakin menjamur.
Sejumlah mahasiswa sudah berkali kali melakukan aksi demo meminta agar seluruh tambang ilegal ditutup. Namun menurut Yurdinawan, bukannya berhenti malah semakin merajalela. Unit Tipidter Polres Bulukumba dituding tidak bekerja bahkan diduga ada oknum yang membekingi.
“Sudah berkali kali di demo. HMI dan PMII sudah pernah demo, kami juga (KKMB) sudah berkali kali turun demo mendesak polisi menutup menertibkan tambang ilegal, menangkap para penambang ilegal. Tapi hasilnya nol, sampai detik ini tambang masih merajalela,” tegas Yurdinawan, Sabtu (18/4/2026).
Oleh karena itu, pria asal Kecamatan Kajang tersebut menganggap para personel Unit Tipidter Polres Bulukumba hanya makan gaji buta begitu pun dengan Kapolres Bulukumba AKBP Restu Wijayanto.
“Sudah lebih satu tahun AKBP Restu Widjayanto pimpin Polres Bulukumba, namun tidak satu pun penambang ia tangkap. Ini adalah rapor merah buat dia dan kami menganggap Pak Restu hanya makan gaji buta, begitu pun dengan Tipidter. Untuk itu, kami minta Kapolres dicopot dan Tipidter dievaluasi,” pungkasnya.
Sayangnya, AKBP Restu Wijayanto yang dikonfirmasi sejak hari Sabtu (18/4) sampai hari ini Senin (20/4), masih bungkam. Perwira Polri berpangkat dua melati tersebut belum merespon pesan yang dikirim ke kontak pribadinya.
Untuk diketahui, pada April 2025, mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) melakukan aksi demo depan Polres Bulukumba tuntut tambang ilegal di kabupaten yang berjuluk Bumi Panrita Lopi tersebut, ditutup.
Selasa (7/4/2026), mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) juga demo di depan Markas Polres Bulukumba, salah satu tuntutanyya adalah mendesak polisi menutup tambang ilegal di Bulukumba.
Sekedar diketahui, tambang ilegal di Bulukumba sudah sering kali merenggut korban jiwa. Data yang dihimpun Beritasulsel.com jaringan Beritasatu.com, sebanyak lima orang yang meregang nyawa di lokasi tambang.
Korban pertama, petani bernama Aco, warga Desa Balong, Kecamatan Ujung Loe. Ia tewas diduga tenggelam bersama kudanya di kubangan galian tambang ilegal di Sungai Balong.
18 Februari 2024, bocah SD bernama Fadil, warga BTN Fuad Arafah, Kelurahan Bintarore, Kecamatan Ujung Bulu, tewas di lokasi tambang ilegal di Desa Anrang, Kecamatan Rilau Ale.
Tanggal 20 Agustus 2025, dua bocah SD warga Dusun Pandang-Pandang, Desa Bajiminasa, dan warga Dusun Jonjoro, Desa Pangngalloang, Kecamatan Rilau Ale, diduga tewas tenggelam di Sungai Balantieng di lokasi tambang ilegal.
4 Desember 2025, ibu rumah tangga bernama Marwah (47), warga Desa Balong, Kecamatan Ujung Loe, meregang nyawa diduga tenggelam di lokasi tambang ilegal di Sungai Balong. (***)

